Dua hati yang saling mencintai memang fitrah untuk semua manusia, tinggal bagaimana manusia sendiri menyikapinya. Sebagai seorang perempuan, aku tak pernah menyangkal kalau diri ini pernah sekali mencintai seseorang yang mungkin membuat diri memikirkannya terus berlarut-larut, terbawa perasaan yang membuatku tak sadar bahwa sebenarnya diri telah melakukan zina hati.
Banyak yang mungkin penasaran dengan kisah cinta diri yang tak pernah ku umbar ke sembarang orang. Tapi, sampai saat ini pun tak pernah kumengatakan kesiapapun perihal hati yang telah jatuh cinta. Mencintai dalam diam, klasik sekali dan itu bukan prinsipku. Aku selalu membuang jauh-jauh rasa itu, ya rasa cinta yang tumbuh tanpa hubungan yang direstui Agama.
Sulit memang, tapi jika diri tak menerapkan prinsip tersebut bagaimana nasib keimananku yang jauh dari kata baik. Aku tak pernah mengelak kalau diri ini memanglah seperti perempuan yang lain, yang senang dipuji. Hanya saja, kembali keprinsip awal “aku harus membuang jauh rasa cinta yang belum halal.” Selalu ku tekankan itu perihal menjaga hati.
Di umur yang memang banyak teman dekat telah memutuskan untuk menikah, khawatir? Sangat khawatir. Khawatir tentang sesuatu yang pasti datangnya, ini hanya soal waktu. Salah seorang yang telah menikah pernah mengatakan padaku “jodoh itu pasti akan datang sendiri di waktu yang sangat tepat.” Ahh iya, aku selalu menekankan dalam hati yang penuh kontroversial mengenai jodoh ini.
Perihal hati, cukuplah aku dan Dia saja yang tau. Bukankah tak berguna juga jika aku mengatakan menyukainya? Bukankah tak akan merubah statusnya jadi milikku? Ada hal yang lebih penting dari pada perihal hati. Ada hal yang lebih menarik perhatianku dari pada perihal hati. Iyaa, senyuman, gelak tawa dari anak-anak yang setiap aku datang berebut memelukku. Bukankah itu lebih menarik? Lebih nyata? Lebih konkrit? Dengan organisasi yang saat ini kujalani, menghadapi orang-orang berkarakter, beredukasi tinggi. Lebih menantang bukan? Dari pada perihal hati yang bisaku simpan sendiri, merasa senang sendiri, merasa sedih sendiri dan itu tak berguna sekali.
Iya, itu sedikit jawaban dari pertanyaan orang-orang yang hari-hari ini banyak bertanya tentang orang yang kusukai. Aku menyukai kalian semua, terlebih kalian yang selalu membantuku di kota perantuan ini. Iya, kamu juga.
Terakhir, perihal hati. Bukankah Rasulullah telah bersabda:
يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك
“Wahai dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku diatas agamaMu.” HR. Tirmidzi
Hari ini aku boleh berkata “aku menyukai dia” dua menit yang akan datang bisa jadi orang lain yang datang melamarku. Serumit itu perihal hati, mari memperbaiki diri dengan memantaskan dihadapan sang illahi.