Pengikut

Jumat, 19 Oktober 2018

Perempuan bepergian sendirian, aman?


Malam itu, ada chatt masuk “fi, besok dateng ke wisudaku kan?” seketika itu juga, aku ingat ada janji untuk menghadiri wisuda di Lamongan. Posisiku saat itu ada tugas negara yang mengharuskanku tidak tidur sampai jam 2 pagi dan harus bangun subuh  tepat waktu. Pagi itu, masih berada di kota perantauan dengan fikiran ingin ke Lamongan motoran sendirian dan pegang prinsip harus balik hari itu juga karena ada tugas negara lain yang berdatangan.
Keputusan yang kuambil akhirnya ku berusaha mengajak orang yang bisa mau menerima rencana yang agak gila ini. Dan endingnya, aku motoran sendirian ke Lamongan, bermodalkan maps karena aku sangat tidak hafal jalan walaupun sudah berulang-ulang. Sebelumnya, izinku ke anak kontrakan berangkat dengan teman.
Jam sepuluhku memulai perjalanan dengan penuh kemacetan di Malang. Dengan niat ingin pulang ke Malang hari itu juga maka kecepatanku diambang batas normal biasanya, tanpa nyasar tapi ada sedikit tragedi hp jatuh di rel kereta membuatku positif thinking untuk bisa balik hari itu juga. Jam setengah satu, aku sampai di STIKES Muhammadiyah Lamongan.
Seakan surprise, ku chatt dia kalau aku sudah berada di kampusnya. Bingung, terharu sampai aku lupa kalo  bawa hadiah untuknya. Hadiah yang kuberharap dia bisa  menjadi teman dunia akhirat. Di Lamongan seakan jadi tempat persinggahanku sholat dzhuhur dan ashar. Jam empat, kumemutuskan pamit. Memeriksa maps dan bensin (spidometer rusak) yang menurutku cukup untuk menuju pom bensin selanjutnya.
Dugaanku salah. Di tengah jalan yang kanan kirinya hutan jati tiba-tiba motor yang kukendarai berhenti. Bisa dibayangkan wajahku seperti apa, kaget, syok, takut. Dengan tangan yang sangat dingin kulihat bensin dan ternyata habis tak bersisa. Akhirnya, ku lihat jam yang menunjukkan setengah lima. Bisa dibayangkan lagi, betapa takutnya aku. Ku berjalan pelan dan baru dua langkahh, ada pengendara motor berhenti dan bertanya:
 “kenapa mbak?”
“bensinnya habis mas”
“naik aja mbak, tak dorong dari belakang”
“loh, gapapa mas?”
“iya mbak”
Reflekku langsung naik motor dan didorong melewati hutan yang ternyata sangat panjang dan lebat sampai ada penjual bensin dipinggir jalan. Waktu itu langsung kuisi full karena tak ingin mengulang kejadian yang sama. Drama belum selesai disitu, diperempatan jalan besar tiba-tiba  motor yang kukendarai mati. Bisa dibayangkan lagi betapa paniknya wajahku. Alhamdulillahnya, bisa langsung nyala.
Perjalanan sendirian itu berujung pada view gunung penanggungan yang ternyata aku semakin mendekatinya. Mengikuti maps dan tak pernah hafal jalan sampai  ada panah yang menunjukkanku ternyata lewat cangar.  Fix, kulihat jam ternyata sudah jam lima sore. Semua surat yang pernah kuhafal kumurojaah semua selama perjalanan.
Gelap dan sepi, Suasana itu membuatku jengkel. Tak ada pemandangan yang tidak indah disana, semuanya membuatku tak henti memujiNya. Waktu menunjukkan maghrib dan aku masih dijalanan cangar. Sampai ku tiba diperkampungan yang pernah kulewati pas pulang dari gunung penanggungan 2 tahun lalu. Ku berbelok kearah gapura kampung iu yang ternyata berujung sawah dan banyak segerombolan laki-laki. Bisa dibayangkan lagi betapa takutnya aku waktu itu. Tanpa fikir panjang kuberbalik arah dan akhirnya menemukan jalan yang tadinya tak kulihat.
Lantunan doa tak henti kuucapkan. Sampai kutiba di kota Batu yang taak hentinya kubersyukur. Sampai komisariat tercinta jam setengah tujuh. Dengan wajah bahagia karena sampai dengan selamat kuberitahu mereka kalau aku hari ini ke Lamongan sendirian motoran. Dibilang gila, ga jelas, sok nekat apapun itu kuterima. Intinya aku bahagia
Perempuan bepergian sendirian, bagiku tak ada yang salah. Hanya saja, ada resiko yang memang harus diterima. Akan tetapi, lebih baiknya memang jangan sampai sendirian. Iya, itu menurutku setelah mengalami hal-hal yang  beresiko seperti itu. Pelajaran yang dapat kuambil dari perjalananku kali ini adalah terus berbuat baik pada siapapun. Kita tak pernah tau kapan balasan perbuatan baik kita itu akan terbalas. Lewat hal-hal kecil yang tak pernah kita sadari seperti ketika aku kehabisan bensin ditengah hutan itu. Semoga kita termasuk orang yang berbuat baik, dari baik saja menjadi lebih baik dan dari lebih baik selalu istiqomah menjadi baik.  aamiin

Merdeka yang harus dimerdekakan

Indonesiaku Merdeka Kekayaan alamnya tak diragukan Gunung dan lautan tak pernah luput dari pandangan Bahasa dan budaya tak terhitung d...