Pengikut

Minggu, 16 Februari 2020

Tepat waktu

Waktu menunjukkan semakin tua bumi yg indah ini. Sedang manusia tetap saja dengan perilaku yg sedikit menjengkelkan pada bumi yg indah ini. Jadi begini, pagi itu aku berjalan sendirian dengan sedikit nyanyian. Melihat kiri kanan yg semuanya diam menunduk dengan hp ditangan, Aku bergumam "dunia ini semakin menggila, hp pun sekarang jadi nyawa." Aku terus berjalan dengan buku yg ku tenteng dan hp yg berulangkali kulihat padahal tidak ada notif.
Sampai akhirnya aku sampai ditujuanku, perpustakaan. Entah sejak kapan aku menfavoritkan tempat yg penuh buku ini. Sesekali aku baca buku tentang agama hingga akhirnya aku teringat saat sebelum sampai ditahap ini, aku dulu yg masih berpakaian ala kadarnya (eh, bukan berarti sekarang sudah baik tapi lumayanlah dari yg dulu) selalu update status di fesbuk tentang bagaimana menutup aurat yg baik, tentang aku yg puasa sunnah, bangun tahajjud, mungkin itu jadi banyak sekali ria'nya yg padahal aku yakin dulu niatku agar para teman2ku tau kalau agama kita itu mengajarkan yg baik padahal aku sendiri masih ga karuan agamanya.
Memaksakan kehendak jadi kebiasaan buruku saat itu. Sok alim dengan bikin status yg sok baik di fesbuk, sok sudah tau agama banyak dengan ngomong ngalur ngidul, sok paling pintar dengan banggain diri sendiri. Padahal semua punya waktunya masing-masing. Hari ini bisa jadi aku terlihat baik tapi besok? Tidak ada yg tau. Hari ini bisa jadi dia terlihat buruk tapi besok? Jangan-jangan dia malah lebih baik dariku. 
Dariku yg mulai belajar membaca buku, ternyata ilmuku masih sekecil  anak semut. Dengan buku aku mulai belajar karakter orang dengan tidak memaksakan kehendak. Aku mulai belajar ternyata semua orang punya waktu untuk belajar, belajar apapun itu baik agamanya maupun sosialnya. Tak ada yg tak tepat waktu, semuanya sudah terskenario dengan rapi. Kita hanya perlu belajar, tidak hanya di sekolah atau di kampus karena sejatinya kita adalah guru bagi diri kita.
Teriknya matahari membuyarkan lamunanku yg sebenarnya mata menatap buku tapi fikiranku ke masa lalu sampai masa yg kujalani  yg ternyata membuatku sadar bahwa aku sudah hampir setengah hari di ruang penuh buku. Menarik nafas panjang jadi penenang sesaat sebelum aku meninggalkan tempat sejuta ilmu. Baiklah mulai saat ini aku harus belajar mengenal diri, aku yakin semuanya akan tepat waktu tanpa harus menghalukan harapan yg berlebihan, gumamku sambil tersenyum hangat menatap lalu lalang orang haus ilmu.


Malang, malam senin

Merdeka yang harus dimerdekakan

Indonesiaku Merdeka Kekayaan alamnya tak diragukan Gunung dan lautan tak pernah luput dari pandangan Bahasa dan budaya tak terhitung d...