Pengikut

Minggu, 24 Juni 2018

Aku Bukanlah Aku

Pada malam aku berbisik
Rumahku adalah surgaku itu apa benar adanya?
Tempat pulang yang selalu dirindukan itu apa benar adanya?
Jalanan yang mulai melenggang seakan menjawab
Langit yang mulai berganti warna seakan menegur
Kenapa mempertanyakan hal itu
Bukankah bisa seperti sekarang ini karena adanya tempat pulang itu
Diamku menatap bintang yang ikut mengawasi
Pada hujan aku bergumam yang tiba tiba turun membasahi
Ketahuilah aku seperti memiliki dua kepribadian
Aku bukanlah aku
Aku berbeda di tempat pulang dan di tempat perantauan

Selasa, 05 Juni 2018

Sudah beragama Islam berapa Tahun? (hanya) membaca Al-Qur’an tanpa mentadabburinya?


Kitab suci agama Islam yang begitu mulia, sudahkah kita memuliakannya? Sudahkah kita benar benar mempelajarinya? Sejauh mana pemahaman kita terhadap kitab suci yang begitu mulia itu? Atau membacanya pun kita masih salah panjang pendeknya, tajwidnya, makhorijul hurufnya? Sudah sejak kapan mengenal Islam? Dari lahir bukan? Lalu, apa yang didapat sampai sejauh ini, jika kitab suci yang jadi petunjuk hidup saja jarang disentuh apalagi difahami?
Di zaman yang sangat modern ini, tentunya sangat mudah dijumpai berbagai media pembelajaran yang mengajarkan kita untuk membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar serta cara memahami dan mentadabburinya. Hanya saja, dengan perkembangan tersebut tak menjadikan semua hati seorang muslim tergerak untuk lebih mengamalkannya.
Mungkin saya salah satunya, dengan kesibukan yang saya buat di dunia perkuliahan, organisasi yang saya ikuti serta kegiatan lain yang banyak menyita waktu saya dalam berhubungan dengan Yang Maha Segalanya. Dan saya juga termasuk muslimah yang tak sadar ternyata selama ini saya hanya membaca kitab suci umat islam itu tanpa mentadabburinya, bahkan ada niatan ingin menghafal tapi tak ada niatan sama sekali bagaimana cara saya mentadabburinya.
Miris sekali pengetahuan saya tentang kitab suci yag seharusnya jadi petunjuk hidup setiap umat islam itu. Yang membuat saya semakin yakin dengan membacanya saja sudah mendapatka pahala yang lebih karena ada yang pernah memberitau saya, bahwa “perumpamaan orang yang membaca Al-Qur’an secara terus menerus tanpa faham artinya itu seperti keranjang kotor yang di siram dengan air seacara terus menerus maka keranjang itu tetap akan menjadi bersih walaupun tidak dengan waktu yang singkat.”
Beberapa waktu lalu, saya mengikuti kajian minggu pagi di Masjid Bukhori, sangat kebetulan sekali membahas tentang  bagaimana jika kita selama ini hanya  membaca Al-Qur’an tanpa mentadabburinya? Hal itu dikupas tuntas oleh ustad Ahmad bin sulaiman salah satu Muballigh Muhammadiyah. Dalam ceramah beliau ada beberapa kriteria orang yang jika membaca Al-Qur’an hanya sekedar membaca tanpa mentabburinya:
1.      Seburuk-buruk orang adalah mereka yang memiliki akal tapi tak memikirkan ciptaan Allah.
2.      Termasuk orang yang bodoh, dalam QS. Muhammad ayat 24 telah dijalaskan perintah mentadabburi Al-Qur’an, yang artinya “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?”
3.      Seperti orang Yahudi yang mempunyai angan-angan Kosong, yaitu ketika membaca Al-Qur’an hanya sekedar membaca tanpa mentadabburinya.

Sudah sangat jelas tentang keutamaan mentadabburi Al-Qur’an yang memang menjadi petunjuk hidup bagi setiap umat Islam yang saat ini semakin dilupakan. Bagaimana bisa kita menjalani hidup di dunia ini bertahun tahun tanpa faham pedoman hidup kita? Bukan berarti ketika kita hanya membaca tidak akan mendapatkan pahala, hanya saja bukankah kita sudah Islam sejak lahir? Bukankah dunia secanggih ini bisa memudahkan kita untuk mentadabburi Al-Qur’an?
Tamparan keras bagi diri saya sendiri yang berfikiran pendek tentang memaknai membaca Al-Qur’an tanpa memahainya. Semoga di 10 malam terakhir Ramdahan ini, kita semakin dekat padaNya dengan memaksimalkan Ibadah kita, membaca dan mentadabburi Al-Qur’an salah satunya.
Semoga bermanfaat J

Malang, 21 Ramadhan 1429 H./ 7 Juni 2018

Merdeka yang harus dimerdekakan

Indonesiaku Merdeka Kekayaan alamnya tak diragukan Gunung dan lautan tak pernah luput dari pandangan Bahasa dan budaya tak terhitung d...