Kitab
suci agama Islam yang begitu mulia, sudahkah kita memuliakannya? Sudahkah kita
benar benar mempelajarinya? Sejauh mana pemahaman kita terhadap kitab suci yang
begitu mulia itu? Atau membacanya pun kita masih salah panjang pendeknya,
tajwidnya, makhorijul hurufnya? Sudah sejak kapan mengenal Islam? Dari lahir
bukan? Lalu, apa yang didapat sampai sejauh ini, jika kitab suci yang jadi
petunjuk hidup saja jarang disentuh apalagi difahami?
Di
zaman yang sangat modern ini, tentunya sangat mudah dijumpai berbagai media
pembelajaran yang mengajarkan kita untuk membaca Al-Qur’an dengan baik dan
benar serta cara memahami dan mentadabburinya. Hanya saja, dengan perkembangan
tersebut tak menjadikan semua hati seorang muslim tergerak untuk lebih
mengamalkannya.
Mungkin
saya salah satunya, dengan kesibukan yang saya buat di dunia perkuliahan,
organisasi yang saya ikuti serta kegiatan lain yang banyak menyita waktu saya
dalam berhubungan dengan Yang Maha Segalanya. Dan saya juga termasuk muslimah
yang tak sadar ternyata selama ini saya hanya membaca kitab suci umat islam itu
tanpa mentadabburinya, bahkan ada niatan ingin menghafal tapi tak ada niatan
sama sekali bagaimana cara saya mentadabburinya.
Miris
sekali pengetahuan saya tentang kitab suci yag seharusnya jadi petunjuk hidup
setiap umat islam itu. Yang membuat saya semakin yakin dengan membacanya saja
sudah mendapatka pahala yang lebih karena ada yang pernah memberitau saya,
bahwa “perumpamaan orang yang membaca Al-Qur’an secara terus menerus tanpa
faham artinya itu seperti keranjang kotor yang di siram dengan air seacara
terus menerus maka keranjang itu tetap akan menjadi bersih walaupun tidak
dengan waktu yang singkat.”
Beberapa
waktu lalu, saya mengikuti kajian minggu pagi di Masjid Bukhori, sangat
kebetulan sekali membahas tentang bagaimana jika kita selama ini hanya membaca Al-Qur’an tanpa mentadabburinya? Hal itu
dikupas tuntas oleh ustad Ahmad bin sulaiman salah satu Muballigh Muhammadiyah.
Dalam ceramah beliau ada beberapa kriteria orang yang jika membaca Al-Qur’an
hanya sekedar membaca tanpa mentabburinya:
1.
Seburuk-buruk
orang adalah mereka yang memiliki akal tapi tak memikirkan ciptaan Allah.
2.
Termasuk orang
yang bodoh, dalam QS. Muhammad ayat 24 telah dijalaskan perintah mentadabburi
Al-Qur’an, yang artinya “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an
ataukah hati mereka terkunci?”
3.
Seperti orang
Yahudi yang mempunyai angan-angan Kosong, yaitu ketika membaca Al-Qur’an hanya
sekedar membaca tanpa mentadabburinya.
Sudah sangat
jelas tentang keutamaan mentadabburi Al-Qur’an yang memang menjadi petunjuk
hidup bagi setiap umat Islam yang saat ini semakin dilupakan. Bagaimana bisa
kita menjalani hidup di dunia ini bertahun tahun tanpa faham pedoman hidup
kita? Bukan berarti ketika kita hanya membaca tidak akan mendapatkan pahala,
hanya saja bukankah kita sudah Islam sejak lahir? Bukankah dunia secanggih ini
bisa memudahkan kita untuk mentadabburi Al-Qur’an?
Tamparan
keras bagi diri saya sendiri yang berfikiran pendek tentang memaknai membaca
Al-Qur’an tanpa memahainya. Semoga di 10 malam terakhir Ramdahan ini, kita semakin
dekat padaNya dengan memaksimalkan Ibadah kita, membaca dan mentadabburi Al-Qur’an
salah satunya.
Semoga
bermanfaat J
Malang, 21 Ramadhan 1429 H./ 7 Juni 2018