Pengikut

Jumat, 06 Juli 2018

Kampung Idiot, kampung penuh harapan




Di sini selalu ada harapan, banner di depan rumah bina kampung idiot lereng gunung beruk desa karangpatihan, kecamatan balong, kabupaten ponorogo. Merinding sekali saat aku lewat dan melihat rumah di kampung idiot itu. Ternyata kampung itu benar-benar ada. Hanya saja, saat itu kukira jumlah penduduk idiotnya sudah semakin sedikit dan hanya tinggal para orangtua. Rumah-rumah sudah bagus dan sangat layak dihuni bahkan ada yang mempunyai sepedah motor.
Kampung idiot, bukankah kasar sekali julukan itu. Padahal kukira bukan salah mereka menjadi idiot, mungkin waktu itu pemerintah kurang memperhatikan masyarakat di daerah lereng gunung beruk tersebut sehingga mereka kekurangan gizi dan menjadi idiot.
Kejutan di kampung idiot seakan membuatku berungkali kaget dan tak menyangka. Yang pada mulanya aku hanya melihat di televisi dan menulis kampung itu di daftar tempat yang ingin ku kunjungi. Dan kemarin Allah izinkan aku mewujudkan mimpi itu. Bermodal nekat dan google maps. Naik motor pulang pergi Malang - Ponorogo - Malang sehari itu nano nano rasanya. Sepanjang jalan ku hanya berdoa semoga google maps menunjukkan jalan yang benar.
Awal kali aku sampai di desa karangpatihan, sempat kecewa. Rumah disini bagus semua, orangnya juga melakukan kegiatan keseharian mereka secara normal. Hanya saja ku terus berjalan lurus hingga ada petunjuk yang mengarahkan ke gunung beruk. Ketika hampir sampai, aku kaget. Aku disapa salah satu bapak-bapak yang idiot. “Ternyata benar-benar ada, dan masih ada sampai sekarang” gumamku. Karna penasaran dengan tulisan  petunjuk ke gunung beruk tadi, akhirnya ku berjalan ke gunung beruk  yang ternyata dijadikan tempat wisata dan diberdayakan oleh para mahasiswa yang pernah KKN di desa tersebut. Dan semakin membuatku penasaran, akhirnya aku memutuskan naik ke gunung tersebut dan menjumpai ibu-ibu yang tiba-tiba mengajakku bicara dengan tatapan kosong dan bahasa yang kurang jelas, kukira ibu itu juga termasuk idiot di kampung itu. Ku dengarkan dan ku tersenyum akan tetapi ibu-ibu itu tiba-tiba menangis. Berusaha kufahami apa yang ibu itu katakan, ya ibu itu di marahi tetangganya yang  kukira idiot juga.
Sedih dan terharu melihat kehidupan mereka. Sedih karena di zaman yang milenial ini masih ada kampung idiot itu dan terharuku mereka mempunyai semangat hidup yang begitu tinggi. Yaa, kukira mereka benar-benar di bina, mereka ada yang berkebun, ada juga satu keluarga yang menjaga wisata gunung beruk yang disulap menjadi spot-spot foto dengan view alam yang menakjubkan dengan harga yang sangat terjangkau.
Perjalananku kali ini sangat mengesankan. Mungkin sebagian orang bertanya-tanya ketika aku memberitau ingin ke sana karena penasaran, bukan karena penelitian ataupun membawa nama organisasi. Hanya penasaran tapi memberikanku pelajaran hidup yang sangat berkesan. Dunia yang fana ini memang penuh sandiwara,  ketika kita di sini hanya mengeluhkan apa yang telah Allah berikan setiap hari tidak sesuai dengan keinginan kita, bukankah mereka lebih sulit dari kita? Mereka berhak mengeluh tapi mereka tidak pernah tau cara mengeluh karena ada harapan besar di kampung idiot itu, iya kampung harapan yang penuh harapan.

Malang, 6 juli 2018

8 komentar:

Merdeka yang harus dimerdekakan

Indonesiaku Merdeka Kekayaan alamnya tak diragukan Gunung dan lautan tak pernah luput dari pandangan Bahasa dan budaya tak terhitung d...