Pengikut

Rabu, 22 Agustus 2018

Mengapa aku muhammadiyah?


Pertanyaan untukku ini mungkin disimpan sebagian temen-temen kuliah yang memang mayoritas mengikuti ormas sebelah. Dalam tulisan kali ini, mungkin aku akan sedikit rasis karena bicara soal organisasi. Tak ada yang salah dengan aku yang Muhammadiyah dan teman-teman yang bukan, aku selalu berfikiran kita semua pasti mempunyai dalil yang kuat dengan berpedoman Al-Qur’an dan Hadist. Karena hidup ini pilihan, aku lebih memilih muhammadiyah sebagai gerakanku.

Aku dilahirkan di desa yang hampir semua masyarakatnya muhammadiyah, jadi tak ada alasan jika aku tak muhammadiyah pada awalnya. Riwayat pendidikanku pun semuanya di lembaga milik muhammadiyah, dimulai dari TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA), MI Muhammadiyah, MTs Muhammadiyah, SMA Muhammadiyah sampai tempat mengajiku pun TPA Muhammadiyah. Pelajaran Kemuhammadiyahan diajarkan dari MI sampai SMA sangat melekat diingatan. Sayangnya, aku tak begitu memahami mengapa aku harus muhammadiyah.

Hingga aku masuk UIN Malang yang memang muhammadiyah minoritas disini. Begitu terekam diingatan saat pertama kali aku sholat subuh di masjid ulul albab, aku sujud ketika yang lain qunut. Karna ngantuk dan kurang fokus sehingga aku lupa kalau aku sekarang berada di lingkungan berbeda. Aku mulai belajar kebiasaan yang tidak kupelajari sebelumnya. Pertanyaan-pertanyaan semakin sering muncul dikepalaku, kenapa banyak sekali perbedaannya? Jangan-jangan selama ini aku yang keliru? Semua pertanyaanku itu kulimpahkan ke guru ngajiku di rumah. Dengan santai beliau menjawab “ikuti kata hatimu fi, semua yang mereka lakukan tentunya ada dalil yang kuat dan kita tidak boleh sembarang menyalahkan atau membid’ahkan.”

Sejak itu, aku belajar mengapa aku harus memilih muhammadiyah. Kupelajari perbedaan-perbedaan yang begitu mencolok, dan kutanyakan ke guru ngajiku di rumah sampai aku menemukan jawaban yang kuat kalau aku tidak salah memilih muhammadiyah sebagai gerakanku. Bukan berarti yang lain salah, hanya saja aku mendengarkan kata hatiku yang berkeyakinan kalau muhammadiyahlah yang benar. 

Pernah ketika awal tinggal di ma’had, semua doa dibacakan dengan bersuara, sedikit-sedikit bilang al-fatihah, baik  ada orang sakit, meninggal dan lainnya. Aku bingung, ini ada tuntunannya? Lalu dalil yang digunakan kuat? Terus, kok aku tidak pernah diajarkan? Ku tanyakan pada guru ngajiku. Lagi-lagi beliau jawab dengan santai dan jelas.

Tak ada yang lebih indah dari perbedaan dan penerimaan. “Sungguh berat jadi kader muhammadiyah, ragu dan bimbang lebih baik pulang!" Kalimat jendral soedirman itu yang selalu ku ingat saat aku meyakinkan diri kalau pilhanku ini benar dan hanya untuk orang-orang yang mau berjuang. Dididik dan dikader di lembaga milik muhammadiyah dari kecil salah satu faktor mengapa aku muhammadiyah. Faktor lain, muhammadiyah cenderung lebih santai tapi tegas dalam menanggapi problematika kehidupan. Hanya saja dalam penghormatan pada para guru, ulama dan kyai, teman-teman lebih soal itu. Kulihat dari bagaimana teman-teman bersikap kepada para ustadz dan ustadzah.

Dengan NU dan muhammadiyah yang berbeda bukan berarti memecah belah Indonesia. Kita hidup berdampingan, saling melengkapi, saling menghargai. Tak ada unsur kesengajaan ingin rasis atau mendoktrin siapapun, ini hanya jawaban dari pertanyaan mengapa aku muhammmadiyah. Tidak ada yang salah disini, kita sebagai manusia hanya bisa berusaha menjadi baik untuk tempat terakhir yang terbaik. Semoga kita selalu dalam lindunganNya dan selalu semangat beribadah  untuk meraih tempat terbaik disisiNya. 

Sabtu, 18 Agustus 2018

Dear keputusan


Masih ingat yang pernah kutuliskan? materi yang kusampaikan di keputrian tentang hijrah kekinian yang ketika kumenjelaskan ada salah satu isi PPT yang kutampilkan “Bagaimana cara menghadapi lingkungan dan orangtua dengan perubahan yang terjadi pada kita dengan signifikan?” ku beri mereka jawaban “dengan memberikan lingkungan dan orang tua kita pengertian.” Memang itu benar jawaban yang seharusnya kan?

Hanya saja, aku sendiri masih berada diambang harapan. Tak sepenuhnya lingkungan dan orang tua menerima keputusan. Aku masih terus memperjuangkan keputusan yang mungkin sepele dimata orang tapi bagiku besar harapan. Ketika yang baik saja berusaha menjadi lebih baik dengan penuh harapan. Apalagi aku kan? Yang belum ada baiknya ini memutuskan mengambil harapan. Harapan tentang keputusan melakukan perubahan yaitu melakukan semuanya sesuai ketentuan.

Aku dibesarkan di lingkungan yang biasa saja terhadap agama Islam yang sebenarnya begitu mengagumkan. Ketika aku mengetahui sesuatu yang sebenarnya selama ini salah dan kulakukan, membuatku resah berbulan-bulan. Hingga keputusanku untuk pergi ke kota perantauan. Meminta izin pada orantua untuk mengikhlaskan sungguh susah dan mengharukan. 

Aku masih ingat pertama kali ketika aku pulang dari perantauan. Aku memakai pakaian yang berbeda dari yang orang-orang rumah kenakan. Banyak  yang menentang, oh bukan menentang sih, lebih ke sulit melakukan penerimaan. Sedikit kaget ketika kujelaskan keputusan yang telah matang-matang kufikirkan. Kadang, aku selalu merasa benar dengan keputusan yang telah menjadi pilihan. 

Selalu kujelaskan dengan baik tentang keputusan perubahan. Tapi, sangat sulit ternyata dalam hal penerimaan. Itu salah satu alasan kenapa aku jarang sekali pulang ke rumah yang selau dijadikan orang-orang untuk dirindukan. 

Hidup ini memang pilihan dan aku telah membuat keputusan untuk melakukan perubahan dalam kehidupan. Keputusan yang telah kubuktikan ketika kuberada di ketinggian. Aku berani berbuat demikian karna ini berurusan dengan tuhan. Semogaku agar orang yang kubanggakan memahami maksud keputusan. Memang benar hijrah itu mudah yang sulit itu istiqomah melakukan.

Sabtu, 11 Agustus 2018

Tentang hijrah kekinian

Kamis, 2 Agustus 2018 pukul 15.13, salah satu senior IMM menelfonku 
“assalamu’alaikum, dek sibuk gak?”
“saya jadi panitia muktamar mas”
“besok bisa ngisi keputrian ga dek?”
“loh? Kok saya mas? Terus apa yang mau saya sampaikan?”
“terserah sampean dek, sampaikan saja yang ingin sampean sampaikan. Tergetnya ini anak SMK Muhammadiyah dek, muridnya mas akbar. Mau nggeh?”
“loh mas,  aku ga ngerti harus ngomong apa tapi iyadeh gapapa mas saya coba”
Kebingungan, khawatir, was was semua bercampur jadi satu. Bagaimana bisa mas akbar begitu percaya pada adeknya yang satu ini. Seketika itu juga, aku langsung mehubungi mbak nida’ immawati yang sampe sekarang belum ada gantinya “mbak niid, mas akbar minta tolong ke aku buat ngisi keputrian. Aku harus nyampein apa?” dengan santai mba nida’ membalas pesanku “tentang menutup aurat coba dek.” Ahh pikiran mba nida’ sama persis dengan apa yang ada dikepalaku. Mba nida’  mengirimiku sebuah tulisan tentang pentingnya menutup aurat disuruhnya aku menyampaikan dengan pelan, jelas, dan tegas.
Malam harinya kubuat ppt sederhana untuk mengurangi rasa kegerogianku ketika menghadap adek adek nanti.

Jum’at, 3 Agustus 2018 pukul 11.30
“mas, saya sudah sampai di sekolah” (sambol tenga-tengo akhirnya ketemu mas akbar sambil melambaikan tangan)
“oh iya dek, ayo masuk. Gimana masih grogi? ”
“iyalah mas, grogi bangett. Ini nanti saya ke kelas berapa sih mas?”
“kelas X-X!! dek”
(aku syok)“banyak banget dong mass”
“gapapa lah dek, udah ya mas tinggal jum’atan. Sampean nanti naik ke sana dianter ibu itu”
“okedeh mas”

 Masuk ke kelas kuliat wajah-wajah lelah dan jengkel menatapku. Aku coba tersenyum dan membuka pembicaraan sambil menunjukkan ppt yang telah kubuat semalam. Materi yang kusampaikan pada adek-adek SMK Muhammadiyah Batu kali ini adalah tentang “Hijrah Kekinian.”
 Kujelaskan apa hijrah itu, mengapa kita harus hijrah, harus mulai mana kalau ingin hijrah, gimana cara menghadapi lingkungan dan orang tua dengan perubahan yang terjadi pada diri kita, dan yang paling penting sesuai tema yang kuangkat yaitu kenapa kok kita tidak boleh ikutan hijrah biar keliatan kekinian.
 Respon yang diberikan adek-adek sungguh tak terduga, mereka benar-benar mendengarkan, menyimak bahkan bertanya. Pertanyaan yang menarik yang terus kuingat adalah “kak, kan aku suka main volly terus masak iya aku harus pake gamis sama kerudung gede gitu kak. Pasti ribet.” Aku tersenyum dan memberi jawaban sepengetahuanku.
 Kuceritakan semua perjalananku dari tahun 2014 yang memiliki keinginan untuk berubah. Iya, hanya keinginan dan ku tulis dalam buku harapan. Pelan tapi pasti, tanpa ada paksaan namun ada bullyan yang sesekali. Semua mengalir seperti air, dulunya ku sangat suka memakai celana ketat sekarang perlahan kutinggalkan semua itu dan iya, aku bisa. Dengan jangka waktu yang tidak sebentar.
 Kesukaanku dengan alam telah mengantarkanku ke beberapa gunung. Hingga ku list gunung mana saja yang ingin ku daki. Kuceritakan pada mereka kalau kesukaanku itu tak menghalangiku untuk menutup aurat secara sempurna. Aku masih bisa memakai rok sampai ke puncak walaupun harus jatuh berkali-kali dan itu tak masalah karena itu memang resiko atas pilihan yang telah ku ambil.
 Kesempatan berbicara didepan dengan menyampaikan pengalaman yang begitu berharga benar-benar langka. Apalagi di era milenial dengan generasi muda yang maunya serba instan salah satunya dengan  ikut-ikutan menjadi baik, mendadak berubah, tanpa tau alasan hingga kusebut hijrah kekinian. Bukan salah mereka generasi masa depan,  mereka hanya belum tau benar apa salah yang telah mereka lakukan.
 Demikian sepenggal pengalaman yang semoga bisa menjadikan pelajaran untuk kedepan sehingga bisa membuat kita lebih berhati-hati dalam menjalankan kehidupan yang memang penuh pilihan. 

Merdeka yang harus dimerdekakan

Indonesiaku Merdeka Kekayaan alamnya tak diragukan Gunung dan lautan tak pernah luput dari pandangan Bahasa dan budaya tak terhitung d...