Pertanyaan untukku ini mungkin disimpan sebagian temen-temen kuliah yang memang mayoritas mengikuti ormas sebelah. Dalam tulisan kali ini, mungkin aku akan sedikit rasis karena bicara soal organisasi. Tak ada yang salah dengan aku yang Muhammadiyah dan teman-teman yang bukan, aku selalu berfikiran kita semua pasti mempunyai dalil yang kuat dengan berpedoman Al-Qur’an dan Hadist. Karena hidup ini pilihan, aku lebih memilih muhammadiyah sebagai gerakanku.
Aku dilahirkan di desa yang hampir semua masyarakatnya muhammadiyah, jadi tak ada alasan jika aku tak muhammadiyah pada awalnya. Riwayat pendidikanku pun semuanya di lembaga milik muhammadiyah, dimulai dari TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA), MI Muhammadiyah, MTs Muhammadiyah, SMA Muhammadiyah sampai tempat mengajiku pun TPA Muhammadiyah. Pelajaran Kemuhammadiyahan diajarkan dari MI sampai SMA sangat melekat diingatan. Sayangnya, aku tak begitu memahami mengapa aku harus muhammadiyah.
Hingga aku masuk UIN Malang yang memang muhammadiyah minoritas disini. Begitu terekam diingatan saat pertama kali aku sholat subuh di masjid ulul albab, aku sujud ketika yang lain qunut. Karna ngantuk dan kurang fokus sehingga aku lupa kalau aku sekarang berada di lingkungan berbeda. Aku mulai belajar kebiasaan yang tidak kupelajari sebelumnya. Pertanyaan-pertanyaan semakin sering muncul dikepalaku, kenapa banyak sekali perbedaannya? Jangan-jangan selama ini aku yang keliru? Semua pertanyaanku itu kulimpahkan ke guru ngajiku di rumah. Dengan santai beliau menjawab “ikuti kata hatimu fi, semua yang mereka lakukan tentunya ada dalil yang kuat dan kita tidak boleh sembarang menyalahkan atau membid’ahkan.”
Sejak itu, aku belajar mengapa aku harus memilih muhammadiyah. Kupelajari perbedaan-perbedaan yang begitu mencolok, dan kutanyakan ke guru ngajiku di rumah sampai aku menemukan jawaban yang kuat kalau aku tidak salah memilih muhammadiyah sebagai gerakanku. Bukan berarti yang lain salah, hanya saja aku mendengarkan kata hatiku yang berkeyakinan kalau muhammadiyahlah yang benar.
Pernah ketika awal tinggal di ma’had, semua doa dibacakan dengan bersuara, sedikit-sedikit bilang al-fatihah, baik ada orang sakit, meninggal dan lainnya. Aku bingung, ini ada tuntunannya? Lalu dalil yang digunakan kuat? Terus, kok aku tidak pernah diajarkan? Ku tanyakan pada guru ngajiku. Lagi-lagi beliau jawab dengan santai dan jelas.
Tak ada yang lebih indah dari perbedaan dan penerimaan. “Sungguh berat jadi kader muhammadiyah, ragu dan bimbang lebih baik pulang!" Kalimat jendral soedirman itu yang selalu ku ingat saat aku meyakinkan diri kalau pilhanku ini benar dan hanya untuk orang-orang yang mau berjuang. Dididik dan dikader di lembaga milik muhammadiyah dari kecil salah satu faktor mengapa aku muhammadiyah. Faktor lain, muhammadiyah cenderung lebih santai tapi tegas dalam menanggapi problematika kehidupan. Hanya saja dalam penghormatan pada para guru, ulama dan kyai, teman-teman lebih soal itu. Kulihat dari bagaimana teman-teman bersikap kepada para ustadz dan ustadzah.
Dengan NU dan muhammadiyah yang berbeda bukan berarti memecah belah Indonesia. Kita hidup berdampingan, saling melengkapi, saling menghargai. Tak ada unsur kesengajaan ingin rasis atau mendoktrin siapapun, ini hanya jawaban dari pertanyaan mengapa aku muhammmadiyah. Tidak ada yang salah disini, kita sebagai manusia hanya bisa berusaha menjadi baik untuk tempat terakhir yang terbaik. Semoga kita selalu dalam lindunganNya dan selalu semangat beribadah untuk meraih tempat terbaik disisiNya.