Pengikut

Minggu, 03 Mei 2020

Apa Kabar Ramadhanmu? :)


Apa kabar Ramadhanmu?
Semoga baik-baik saja ya, jangan seperti hatiku, eh hehehe. Pasti berbeda dengan ramadhan tahun sebelumnya kan? Pasti dibenak kita ada rasa “enak tahun kemarin ya, bisa buka bersama, ngabuburit, sahur bareng dan hal seru lainnya.” Padahal suatu saat nanti kita pasti lebih banyak cerita tentang ramadhan kali ini. Ada banyak kebaikan yang tersimpan dalam setiap kejadian.
Apa kabar Ramadhanmu?
Jangan terlalu meratapi, percayalah ramadhan kali ini ada beribu pelajaran untuk kita agar lebih banyak bersyukur, selalu ingat dengan sesama, dan tentunya kita akhirnya menyadari ada beberapa dalam hidup kita yang harus diperbaiki lagi.
Apa kabar Ramadhanmu?
Sudah sampai juz berapa? Semoga dengan dirumah aja ini justru menggairahkan semangat kita. Minimal sehari ada tiga halaman yang dibaca dong. Eh, ini pengingat untukku juga. Sholat sunnahpun harus mulai ditingkatkan walaupun masih setengah-setengah, minimal selalu ada usaha. 
Apa kabar Ramadhanmu?
Masih semangat kan? dengan keadaan serba terbatas, rindupun sudah ditampung tanpa batas tentunya menjadikan diri kita semakin bermuhasabah, menjadikan diri kita lebih menghargai pertemuan. Bersemangatlah mengukir cerita di ramadhan kali ini, karena mengeluhkan keadaan pun bukan solusi.


Ramadhan menulis part 4
Tema : Puasa dan pelajaran kehidupan

Sabtu, 02 Mei 2020

Sederhana tentang Pendidikan

Selamat Hari Pendidikan
Akan selalu ada banyak semoga untuk keadaan pendidikan ini. Dengan kondisi wabah semakin menjadi-jadi, membuat pendidikan negeri masih sebagian belum bisa terkondisi. Dunia pendidikan memang menyenangkan. Jika ada sebagian orang senang di kantor bertemu dengan komputer atau benda mati lainnya, berbeda dengan dunia pendidikan yang setiap hari harus berinteraksi dengan makhluk hidup yang memiliki karakter menakjubkan. 
Begitu mulianya seluruh pendidik yang sudah mau mendedikasikan waktunya untuk mendidik anak-anak manusia dengan sepenuh hati. Aku yakin semua pendidik mempunyai keinginan yang terbaik untuk anak didiknya walaupun dengan ribuan masalah yang sedang dihadapinya. Pendidikan memang kunci kemajuan negeri ini. Anak-anak yang muda diharapkan membantu dengan belajar membaca dan menulis agar tidak diperdaya orang luar, bukankah begitu? 
Ah ya, salam pendidikan dariku yang sampai saat ini terus belajar memaknai arti pendidikan. Beribu lantunan doa untuk semua pendidik negeri ini, yang selalu bersedia menyusuri jalanan untuk sekedar berbagi cerita, yang bersedia berangkat pagi pulang sore untuk sekedar menyambung ilmu. Dariku yang selalu belajar untuk menjadi pendidik agar bisa memberi contoh ini semoga pendidikan di Indonesia bisa terkoreksi, para pendidik pun senantiasa terus intropeksi untuk kebaikan negeri karena pendidik berbeda dengan guru kursus, mereka istimewa dan akan selalu teristimewa bagi negeri.


Ramadhan menulis part 3
Tema: mengembalikan marwah pendidikan ditengah pandemi

Jumat, 01 Mei 2020

Negeri ini saling membohongi



Selamat hari buruh sedunia
Di liburan corona yang kesekian membuatku selalu mencari tau hal-hal baru tentang bagaimana cara belajar masyarakat adat yang belum mengenal dunia modern. Aku selalu tertarik dengan kekayaan negeri ini. Ternyata banyak dari kelompok mereka belum bisa membaca dan bahkan enggan belajar membaca. Yang sangat jadi masalah adalah masyarakat di negeri sendiri membohongi mereka dengan tak tau diri. Negeri yang mempunyai kekayaan alam yang luar biasa ini bisa-bisanya menjatuhkan sesama masyarakat sendiri. Menebang pohon tanpa mempertimbangkan kehidupan masyarakat didalamnya menjadi kebiasaan yang wajar untuk menyelamatkan kebutuhan ekonomi diri sendiri.
Aku begitu merinding ketika dengan mudahnya mereka membohongi. Sedangkan yang dibohongipun selalu mengiyakan saja karena tertipu makanan modern sekardus. Banyak ternyata yang akhirnya kuketahui. Dari bagaimana masyarakat negeri saling membohongi, ada sebagian lembaga masyarakat yang tidak dipertanggungjawabkan arah dan geraknya, bahkan pemerintahan yang dari rakyatpun seakan tak mau tau. 
Dariku yang hanya seorang pembelajar dan rakyat biasa ini, hanya bisa sedih dan termangu. Bagaimana tidak, aku lahir dan besar di tempat yang semuanya sudah terpenuhi nyatanya tidak ada kontribusi untuk negeri. Bahkan aku baru tau ternyata semenyeramkan itu kehidupan di kelompok yang belum terjamah teknologi. Mereka butuh pendidikan yang bisa mengerti keadaan mereka. Ah ya, aku ingat perkataan mas fawwaz dibukunya yang menyublim disela hujan "pendidikan itu yang datang dengan belajar bukan mengajar. yang berpihak, bukan yang mensubordinatkan." Ternyata aku memang harus lebih banyak belajar, karena negeri ini harus baik-baik saja. Denganku yang tidak bisa berbuat banyak, maka setidaknya yang kulakukan tidak boleh sama dengan mereka yang mengaku masyarakat negeri ini ternyata saling membohongi.


Ramadhan menulis part 2
Tema: Lingkungan hidup dan ekonomi global

Kamis, 30 April 2020

Belajar memahami ditengah pandemi


Semenjak wabah corona ini menyebar membuat sekolah dialihkan di rumah, semua pekerjaan dialihkan di rumah, ribuan karyawan di PHK, dan masih banyak pihak yang sangat dirugikan. Semenjak wabah corona ini menyebar juga membuat sebagian waktu kuhabiskan untuk membaca, walaupun itu novel ehehe. Dampak dari corona yang paling terasa adalah orangtua. Selain harus work from home, mereka juga harus mendampingi anak mereka yang juga belajar di rumah.
Berjalan dua bulan tentu membuat anak-anak jenuh, orangtuapun sudah mulai mengeluh, guru hanya bisa memberi petuah-petuah agar mereka kembali patuh. Nyatanya itu tidak mudah. Bukan perkara salah siapa atau harus ditanggungjawabkan untuk siapa. Ini tanggungjawab bersama, butuh kesadaran bersama karena datangnya pandemi ini pun bukan rencana. Jadi haruslah saling memahami ditengah pandemi ini.
Dariku yang juga terkena dampak dari pandemi ini, melihat anak-anak yang sudah mulai enggan mengerjakan tugas, sudah mulai enggan membaca pesan yang kukirimkan. Aku yakin mereka mulai bosan dengan tidak ada uang jajan, tidak bertemu teman, hanya dengan tugas yang jadi pemandangan. Hanya saja dalam hal ini, akupun masih belajar agar mereka tidak menyalahkan keadaan, tidak mengeluhkan guru karena selalu memberikan tugas yang mereka sebenarnya butuh dijelaskan.
Aku yakin dengan mereka yang memang dari didikan orangtua yang disiplin akan selalu mengerjakan tugas dengan rajin. Eh bukan berarti ada orangtua yang tidak disiplin, aku yakin semua orangtua menginginkan yang terbaik hanya saja dalam hal belajar anak-anak memang butuh stimulus khusus dari orangtua seperti kata mbak najeela shihab.
Dalam hal ini aku pun sama dengan mereka, sama-sama terus belajar. Seperti kata ibu butet manurung “saya belajar menjadi guru dari ketidaksempurnaan guru-guru di sepanjang hidup saya. Sedangkan guru idola saya adalah murid-murid saya.” Dari sinipun aku yang hanya seorang perempuan yang akan terus belajar bersama mereka dengan mencoba tidak menyalahkan mereka ketika merekapun sudah mulai bosan dengan pembelajaran serba dirumah ini. Semoga dengan adanya pandemi ini menjadikan pelajaran yang berturut-turut bagiku ataupun semuanya. Belajar memahami diri ditengah pandemi ketika biasanya ingin sekali libur dan di rumah aja sekarang malah ingin menyibukkan diri di aktifitas yang menguras tenaga tapi menyenangkan.


Bumi membaiklah, ada sejuta doa untukmu.


Ramadhan menulis part 1
Tema : WFH, tanggung jawab guru atau ortu?

Jumat, 17 April 2020

Menebar Senyuman Kebaikan


Setiap hari ahad pagi setengah siang saat itu selalu jadi hari yang kunantikan di semester akhir perkuliahan yang hanya ada mata kuliah skripsi dan PKL. Aku yang berada di Kota Malang selama ini ternyata tidak sadar, bahwa ada kehidupan yang berdampingan dengan awan yang butuh bantuan. Kehidupan yang berdampingan dengan awan itu ada di desa lereng gunung yang punya pemandangan memanjakan mata tapi tidak dengan kesehariannya.
Di desa tersebut ada masjid dan gereja berdampingan, tapi keduanya sangat sepi. Kalau gereja yang biasannya hari ahad ada pemujaan, tak ada suara gesekan sandal pun yang masuk ke gereja itu. Sedang masjid yang harusnya dipakai sholat ternyata adzan pun tak ada yang mengumandangkan. Sedihku berkecamuk saat aku menemukan tempat seindah itu tapi sedikit semangat beribadahnya mereka.
Dihari sebelum ahad pagi setengah siang yang selalu kunantikan itu, aku bertemu ibu-ibu warga desa itu. “Buk, kalau misalnya saya ngajak temen saya kesini untuk meramaikan masjid dan ngajak anak-anak disini boleh?” ibuk itu tanpa ragu menjawab “silahkan mbak, nanti saya bilangkan ke RT sini.” Sejak itu, hari ahad pagi setengah siangku berubah. Jika biasanya aku hanya tiduran di kamar, mulai hari itu aku berjanji dengan diriku kalau kebaikan berbagi tidak harus mewah dan harus disegerakan, karena berbagi akan membuat hidup kita semakin berarti.
Apalagi di zaman se milenial ini, semua terfasilitasi ketika kita ingin berbagi. Salah satunya kewajiban yang diam-diam dilupakan sebagian orang. Zakat, rukun islam yang mengajarkan kita untuk selalu mengingat ada orang yang butuh bantuan kita. Dengan Dompetdhuafa.org memudahkan kita ketika ingin menyempurnakan rukun islam. Tidak ada alasan bermalas-malasan lagi untuk menunaikan kewajiban di zaman yang seba mudah ini.
Dalam menanggapi musibah saat ini misalnya, aku tak sehebat Dompetdhuafa.org yang bisa menyalurkan bantuan langsung kepada mereka yang membutuhkan. Akupun hanya bisa menebar senyuman kebaikan kepada mereka di sekitar yang butuh asupan energi positif. Di kehidupan yang berdampingan dengan awan itupun, tak hentiku tersenyum dari awal sampai akhir hanya untuk melihat semangat belajar agama mereka.
Tak hentiku berdebar saat aku tanyai mereka “besok kalau ke masjid bawa al-qur’an ya dek” mereka serentak menjawab “gak punya kak, sudah jelek” aku terdiam kaget menatap mereka. Bisa dibayangkan di desa yang berdampingan awan itu tidak mempunyai kitab suci yang layak dan seharusnya di baca setiap hari. Akhirnya, hari itu aku memutuskan bercerita dengan tak henti menebar senyuman kebaikan. Karena anak-anak adalah pemerhati ulung, ketika mereka melihat orang yang lebih dewasa dari mereka tentu saja mereka akan menirunya. Hanya dengan tersenyum menenangkan dan menahan amarah ketika mereka berbuat salah menjadi daya tarik kita untuk mereka supaya kita selalu didengar.
menjadi baik itu mudah dan murah, hanya dengan menebar senyuman kebaikan akan memberikan energi positif yang melihatnya. Berhenti menyikapi sesuatu yang salah dengan amarah, berikanlah senyuman kebaikan sebagai obat penahan marah. Cobalah praktekan saat sedang berkendara dan ada bapak-bapak yang membantu menyebrangkan jalan untukmu lalu tersenyumlah, itu akan melegakan bapak tersebut atau kepada para penjual makanan yang kita temui dijalanan dengan memberikan senyuman dan sapaan yang ramah. Sesederhana itu untuk menebar kebaikan. Tak ada alasan lagi untuk tidak berbagi dengan orang disekitar kita. Semoga dengan tulisan sederhana ini, mengingatkan kita untuk selalu menebarkan energi positif dengan senyuman kebaikan.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Menebar Kebaikan yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa.


Malang, detik-detik menjelang Ramadhan

Minggu, 16 Februari 2020

Tepat waktu

Waktu menunjukkan semakin tua bumi yg indah ini. Sedang manusia tetap saja dengan perilaku yg sedikit menjengkelkan pada bumi yg indah ini. Jadi begini, pagi itu aku berjalan sendirian dengan sedikit nyanyian. Melihat kiri kanan yg semuanya diam menunduk dengan hp ditangan, Aku bergumam "dunia ini semakin menggila, hp pun sekarang jadi nyawa." Aku terus berjalan dengan buku yg ku tenteng dan hp yg berulangkali kulihat padahal tidak ada notif.
Sampai akhirnya aku sampai ditujuanku, perpustakaan. Entah sejak kapan aku menfavoritkan tempat yg penuh buku ini. Sesekali aku baca buku tentang agama hingga akhirnya aku teringat saat sebelum sampai ditahap ini, aku dulu yg masih berpakaian ala kadarnya (eh, bukan berarti sekarang sudah baik tapi lumayanlah dari yg dulu) selalu update status di fesbuk tentang bagaimana menutup aurat yg baik, tentang aku yg puasa sunnah, bangun tahajjud, mungkin itu jadi banyak sekali ria'nya yg padahal aku yakin dulu niatku agar para teman2ku tau kalau agama kita itu mengajarkan yg baik padahal aku sendiri masih ga karuan agamanya.
Memaksakan kehendak jadi kebiasaan buruku saat itu. Sok alim dengan bikin status yg sok baik di fesbuk, sok sudah tau agama banyak dengan ngomong ngalur ngidul, sok paling pintar dengan banggain diri sendiri. Padahal semua punya waktunya masing-masing. Hari ini bisa jadi aku terlihat baik tapi besok? Tidak ada yg tau. Hari ini bisa jadi dia terlihat buruk tapi besok? Jangan-jangan dia malah lebih baik dariku. 
Dariku yg mulai belajar membaca buku, ternyata ilmuku masih sekecil  anak semut. Dengan buku aku mulai belajar karakter orang dengan tidak memaksakan kehendak. Aku mulai belajar ternyata semua orang punya waktu untuk belajar, belajar apapun itu baik agamanya maupun sosialnya. Tak ada yg tak tepat waktu, semuanya sudah terskenario dengan rapi. Kita hanya perlu belajar, tidak hanya di sekolah atau di kampus karena sejatinya kita adalah guru bagi diri kita.
Teriknya matahari membuyarkan lamunanku yg sebenarnya mata menatap buku tapi fikiranku ke masa lalu sampai masa yg kujalani  yg ternyata membuatku sadar bahwa aku sudah hampir setengah hari di ruang penuh buku. Menarik nafas panjang jadi penenang sesaat sebelum aku meninggalkan tempat sejuta ilmu. Baiklah mulai saat ini aku harus belajar mengenal diri, aku yakin semuanya akan tepat waktu tanpa harus menghalukan harapan yg berlebihan, gumamku sambil tersenyum hangat menatap lalu lalang orang haus ilmu.


Malang, malam senin

Sabtu, 14 September 2019

anak berhak dibela

Selamat untuk semuanya yang menikmati liburan. Selamat untuk semuanya yang tak pernah menyerah untuk mimpinya. Selamat untuk semuanya yang selalu berhasil mengalahkan egonya. Dalam satu titik kehidupan, aku telah menemukan begitu mudahnya seseorang untuk menghancurkan mimpi orang lain, mencemooh orang lain, dan menusuk pelan-pelan untuk mewujudkan hasrat nafsunya. diantaranya, mengatakan hal yang tidak perlu dikatakan pada seorang anak.
Aku belajar memahami setiap karakter setiap anak sejak aku merasa anak tidak boleh diperlakukan sama dan seenaknya. Setiap anak memiliki kemampuan untuk mimpinya, untuk apa yang ingin dicapainya. Sebagai seorang yang lebih dewasa atau lebih tua bukankah seharusnya mendukung? atau memotivasi? iya, itu seharusnya. Kenyataannya dewasa ini banyak sekali orang deasa atau lebih tua menjatuhkan mental psikologis anak dengan mengatainya di depan umum, menjudge dia bodoh, menjudge bahwa dia tidak munkin menggapai mimpinya yang super aneh itu.
Dalam setiap rangkaian kehidupan, pasti ada masalah. tugas kita menyelesaikannya, bukan menyalahkan orang lain apalagi melampiaskan pada anak. Menjadi seorang pendidik merupakan salah satu mimpiku. Dan setelah kubelajar islam, ternyata semua orang wajib menjadi pendidik ketika seseorang itu sudah tau sesuatu maka kewajibannya adalah menyampaikan.
Dalam posisi seorang anak yang mempunyai orang tua possesive sangat memungkinkan menciptakan karakter anak yang suka berbohong, rawan melawan, dan memunculkan sifat kebencian yang terdalam. bisa jadi anak tersebut ketika ada perintah "jangan" maka semakin dia ingin melakukan. Kenapa? karena dia tidak pernah dijelaskan dengan aik alasan kenapa dia tidak boleh mealkukan hal yang dilarang.
Semua orang tua pernah menjadi anak. Hanya saja dalam setiap perkembangan zaman tentunya harus berbeda dalam mendidik seorang anak. Di zaman yang serba milenial ini justru para orang tua harus lebih pintar, lebih tau hal terupdate sehingga bisa menyikapi seorang anak tersebut dengan tepat. Dengan begitu generasi penerus bangsa ini terhindar dari ancaman teknologi yang terus maju dan modern.
Terimakasih sudah mau membaca, semoga bermanfaat dan semoga kita bisa jadi pendidik yang baik serta memahami setiap karakter anak dengan baik sehingga tidak ada namanya anak nakal dan anak bodoh di dunia ini. ^^

Merdeka yang harus dimerdekakan

Indonesiaku Merdeka Kekayaan alamnya tak diragukan Gunung dan lautan tak pernah luput dari pandangan Bahasa dan budaya tak terhitung d...