Pengikut

Minggu, 16 Agustus 2020

Merdeka yang harus dimerdekakan

Indonesiaku Merdeka

Kekayaan alamnya tak diragukan

Gunung dan lautan tak pernah luput dari pandangan

Bahasa dan budaya tak terhitung dengan tangan

Indonesiaku Merdeka

Orang kaya di negeri ini semakin kaya

Orang miskin di negeri inipun semakin miskin

Jeritan masyarakat dikalangan bawah tak pernah dihiraukan

Indonesiaku Merdeka

Merdeka hanya milik mereka penguasa

Merdeka yang ternyata masih kata-kata

Merdeka ini harusnya bisa dirasakan semua

Indonesiaku yang merdeka

Merdekamu harus benar dimerdekakan

Agar sila kelima pancasilapun tak terabaikan

Benar, keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia

Dirgahayu Indonesiaku ke-75

Rabu, 01 Juli 2020

Hilangnya Adab di Zaman Peradaban


Sebelumnya mari kenalan dengan kata adab dan peradaban. Ringan saja, adab seperti yang sering kita dengar adalah tentang tata krama, kesopanan. Sedangkan peradaban adalah tingkat kemajuan ilmu pengetahuan dan pendidikan. Tentu saja jika digabungkan menjadi tata krama di tingkat kemajuan ilmu pengetahuan dan pendidikan. Terjun di dunia pendidikan serta melihat sosial media yang semakin merajalela banyak sekali pro kontra tentang bagaimana menjadi manusia yang beradab di zaman peradaban.
Seringkali kita merasa bahwa telah melakukan hal yang benar, padahal itu sesuatu yang tidak beradab. Seiring berjalannya waktu dan berada di tempat yang berbeda ternyata adab yang sering digembor-gemborkan oleh khalayak orang karena milenial hari ini seperti kehilangan adab. Sebenarnya tidak lebih kehilangan adab tapi bagaimana para orang tua lebih mengenalkan adab yang ada dan dipertahankan di tempatnya dengan memperlakukan seseorang sesuai dengan kebiasaan yang ada disekitarnya. Karena sekali lagi, adab tidak selalu tentang penghormatan yang ada dipikiran kita. Dari bukunya ibu butet yang pernah kubaca ketika orang rimba menyerahkan buku ke gurunya itu dengan dilempar karena mereka merasa itu cara menghormati guru mereka agar guru mereka tidak menunggu lama. Bukankah itu tidak sopan dari sudut pandang kita? Yang padahal seperti itulah adab menurut mereka, dan tidak ada yang salah mereka berbuat demikian saat di lingkungan dan kebiasaan mereka memang seperti itu.
Hilangnya adab di zaman peradaban ini sangat terlihat jelas ketika kita saling menyalahkan dan mengaku benar. Apalagi dengan mengaku bahwa dirinya manusia paling beradab. Kalau kata bapak toto rahardjo “Belajar dari pengalaman, yang dipelajari bukan sekedar “ajaran” teori, pendapat, kesimpulan, wejangan, nasehat, khotbah, pidato dari seseorang, tetapi belajar dari peristiwa, keadaan nyata.” Menjadi manusia yang beradab di zaman peradaban ini memang sedikit susah, karena kita pendek berfikir dan asal melakukan. 
Anak milenial yang hari ini sering disangkal dengan kehilangan adabnya memang nyata. Banyak dari milenial tidak sadar dengan hal yang dilakukannya karena tidak pernah berfikir panjang ketika akan melakukan sehingga hampir tidak pernah benar kelakuan mereka menurut orang yang lebih lama menjalani kehidupan. Tidak ada yang salah, hanya saja kesadaran diri tetap jadi peling utama. Saling mengingatkanpun juga tidak susah namun kembali lagi sekedar anggapan seringkali jadi pesan terabaikan. 
Dimulai dari diri untuk menghentikan adab yang mulai hilang di zaman peradaban ini. Berhenti asal menuduh, berhenti mengklaim diri sebagai yang paling beradab karena itu yang semakin mengesalkan untuk bersikap beradab. Pesan ini untuk semuanya, termasuk para orangtua yang telah lama di dunia, juga untuk anak muda yang punya fikiran seenaknya tanpa berkaca dari yang lama. Percayalah, adab tidak akan hilang dari peradaban ketika kita tidak asal berprasangka dan terus belajar dari realita, bukan sekedar katanya.

Sabtu, 23 Mei 2020

Malam ahad istimewa



Malam ahad ini berbeda
Ada takbir yg terus menggema
Dengan diri tetap harus di rumah

Malam ahad ini berbeda
Ada Ramadhan pamit meninggalkan
Dengan keinginan kebaikan terus berjalan

Malam ahad ini berbeda
Ada yg menahan rindu
Dengan harap lekas berakhir dan bertemu

Malam ahad ini berbeda
Ada ramadhan dengan sejuta kebaikan
Dengan corona dan sejuta harapanT

Tapi, malam ahad ini istimewa
Ada kamu dan aku di bawah langit yg sama
Dengan doa dan harap yg selalu sama

Semoga kebaikan yg kita tanam di ramadhan tetap melekat
Semoga harapan setelah corona berakhir tidak hanya tercatat
Selamat hari raya idul fitri dengan terus menebar kebaikan tanpa sekat

Sabtu, 09 Mei 2020

Penghujung


Alhamdulillah hari ini, hari terakhir ramadhan menulis. Tak banyak yang akan kusampaikan untuk teman-teman yang telah membersamai dan teman-teman yang dengan setia selalu membaca tulisan.


Dari sekian tulisan banyak yang ku ambil dari kisah hidupku dan orang sekitar yang memang dalam setiap kejadian ada banyak pelajaran.

Sekali lagi terimakasih, Ramadhan menulis ini juga telah membuatku semakin sadar kalau menulis bukan perihal sulit tapi mau atau tidak untuk terus belajar dan memperbanyak membaca.


Ramadhan menulis ini salah satunya yang paling banyak memberikanku pelajaran. Melihat teman-teman yang mempunyai semangat menulis dan bisa menghasilkan tulisan yang selalu dinantikan.

Apalagi ditengah wabah ini, menjadikan sebagian waktuku lebih bernanfaat. Semoga setelah ini di sepuluh malam terakhir kita bisa dikhusu’kan dengan ibadah dengan berdoa agar wabah segera berakhir. 


Di penghujung membuatku tersanjung, banyak komentar positif dari teman-teman lain yang terus melihat postingan story. Dengan menanyakan loh itu lomba fi? Atau ngapain? Ehehe. Seneng rasaya bisa melewati ini. Eh gimana kabar Ramadhanmu? Semoga baik yaa, aku juga hehe. Semoga semakin dekat dengan hari kemenangan membuat kita juga semakin bersemangat meningkatkan ibadah



Jumat, 08 Mei 2020

Yang telah terlahir


Teriknya matahari tak pernah sedikitpun melemahkan semangatku untuk kerja. Oh ya, perkenalkan aku anak kedua dari tujuh bersaudara. Dibesarkan ibu seorang diri di desa. Ayahku? Dia pergi meninggalkan ibuku saat aku kelas 4 SD. Memori itu jelas teringat saat sore menjelang maghrib seperti biasanya ibuku menyiapkan makanan untuk kami semua. Ibu menunggu kepulangan ayah sampai tengah malam di depan pintu rumah. Tak ada kata yang ditinggalkan ayah saat itu. Keesokan harinya ada renternir yang ingin menyita rumahku, ah seperti sinetron saja hidupku namun itu memang terjadi. Hingga akhirnya kami pindah ke desa kelahiran ibu tanpa ayah.
Ibu membesarkan kami dengan sekuat tenaga. Apapun dilakukan agar kami bisa makan. Aku mempunya dua pasang adik kembar yang tentu memberatkan ibuku saat sekolah karena semuanya harus bersamaan. Dua tahun yang lalu, kakakku meninggal karena sakit. Dokter bilang penyakitnya sudah lama, bisa jadi kakakku hanya diam tak ingin memberatkan keluarganya yang memang sudah pontang-panting untuk bertahan hidup. Terlahir di keluarga ini membuatku menjadi perempuan sekuat baja, membuatku untuk tidak terlalu berharap pada manusia karena setelah kejadian itu ibu mengajarkanku harus menaruh harapan hanya pada Yang menciptakan.
Ditengah pandemi ini, sebenarnya aku dan keluargaku sudah terbiasa. Kami terbiasa hidup sederhana yang penting bisa makan. Kami sekeluarga bekerja di pabrik pengolahan ikan, eh kecuali adikku kembar yang paling kecil. Nasib keluarga kami termasuk lebih beruntung karena pihak pabrik masih memperkerjakan kami walaupun gaji yang kami terima dipotong hampir 50%. Aku mengira banyak diluar sana yang lebih susah dari kami. Namun yang paling kusesali adalah ketika aku melihat di tv, justru ojek online yang paling disorot padahal banyak dari kami juga merasakan kekurangan di tengah pandemi ini.
Ah benar, kata ibuku musibah semacam ini pasti terjadi dan rakyat kecil seperti kami sudah lumayan terlatih. Melakukan apapun demi mendapatkan uang halal sudah menjadi rutinitas sebelum kami bekerja di pabrik itu. Terlatih namun hatiku masih kadang hancur saat melihat ibuku menangis sendiri di dapur melihat karung beras sudah tak berisi. ah iya, aku ingin sekali mengirim pesan ke pak presiden kalau kami terlahir sebagai rakyat kecil tak pernah berharap lebih dan tak akan mengguncang jabatan bapak, hanya saja kami ingin keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia itu ada di sini karena pandemi ini sangat berdampak pada kami.




Cerita sederhana yang semoga menggugah kita untuk selalu bersyukur
Ramadhan menulis part 9
Tema: Nasib rakyat kecil ditengah pandemi

Kamis, 07 Mei 2020

Ingin bosan namun tak pantas


Assalamualaikum warohmatullai wabarokatuh :-)
Bagaimana kabarnya? Semoga selalu baik ya. Kali ini memasuki ramadhan menulis part 8, antara sedih akan segera berakhir dan senang karena sudah tidak ada deadline lagi ehehehe.  Ketika bicara wabah pasti kita sudah mulai jenuh, bosan dan ingin segera beranjak dari rumah. Hanya saja itu tak pantas untuk kuucapkan. Banyak dari kita seakan menutup diri dengan segala keberkahan yang ada ini dan erus menerus mengeluhkan keadaan.
Ingin bosan namun tak pantas ketika melihat lalu lalang bapak gojek dengan segala keterbatasannya tetap melakukan pekerjaan yang mengharuskan mereka untuk tidak dirumah. Apalagi dengan sepinya orderan akrena orang-orang takut untuk memesan di luar.
Ingin bosan namun tak pantas ketika melihat ibuk-ibuk pagi buta pergi ke pasar dengan segala harap mereka agar dagangan yang dijualnya segera habis yang nyatanya kadang mereka harus rela sayuran dan buah-buahan masih banyak sampai membusuk.
Ingin bosan namun tak pantas ketika melihat bapak penjual kayu atau sejenis perabotan kayu yang dibopong dnegan pundak atau dengan menggunakan sepedah pancal berkeliling dari ujung ke ujung menantikan ada orang yang memanggil untuk membeli
Ingin bosan namun tak pantas, siapa aku ini berani-beraninya bosan dengan kegiatan ditengah wabah padahal banyak sekali yang ingin diposisi ini. Mari kita buka mata lebar-lebar, memakanai semuanya dengan sudut pandang positif ketika kita ingin bosan karena apa yang kita bosankan ini adalah mimpi para pejuang yang berada di jalanan. Eh, ini pesan untukku juga.



Ramadhan menulis part 8

Rabu, 06 Mei 2020

Pena Keabadian

Semenjak ada ramadhan menulis, banyak ide dadakan yang kadang ga jelas tiba-tiba muncul. Yang biasanya harus ada ide dulu baru buka notbuk kesayangan eh sekarang pas buka notbuk kesayangan harus ada ide ehehhe. Dan seperti saat ini, di part ke tujuh aku berulangkali mengeluh buntu padahal belum kucoba. Itu mungkin yang biasanya orang-orang omongkan “biasaa, maklum perempuan ya gitu.” Ribet sekali aku ini.
Membaca dan menulis sebenarnya bukan keahlian atau hobiku, namun setelah melihat ternyata hanya ini yang bisa membekas tapi bukan luka akhirnya aku memutuskan untuk memaksakan diri agar mau membaca dan menulis. Padahal dulu waktu masih sekolah ketika disuruh nulis hobinya apa, aku pasti menulis membaca sebagai hobiku yang realitanya tidak sama sekali eheheh. Sebelum mengenal blog inipun, buku harian jadi saksi dalam mengambil manfaat setiap kejadian eh banyak ngeluhnya malah dan itu bukan masalah kan cuma aku yang baca. :D
Aku menyebut pena keabadian, pena dalam arti tulisan. Eh itu hanya pengertian dariku disini. :D Kenapa abadi? Karena tidak ada yang banyak bisa kita tinggalkan kecuali kebaikan dan coretan tangan bukan harta warisan. Dalam pena keabadian inipun aku ingin mengukir setidaknya sedikit dari cerita kehidupan yang bisa kuabadikan walaupun kurang berkesan dimata kalian. 
Dibulan suci ramadhan ini juga waktu yang tepat untuk mengabadikan target dan realita lewat pena sederhana. Bisa jadi akan menjadi evaluasi diri paling kompeten karena sifatnya abadi. Semoga saja dengan hanya tulisan bisa membangkitkan keimanan di bulan Ramadhan. Selamat mengistiqomahkan keimanan dengan pena keabadian. :)



Ramadhan menulis part 7
Tema: Ramadhan dan pena

Merdeka yang harus dimerdekakan

Indonesiaku Merdeka Kekayaan alamnya tak diragukan Gunung dan lautan tak pernah luput dari pandangan Bahasa dan budaya tak terhitung d...