Pengikut

Sabtu, 18 Agustus 2018

Dear keputusan


Masih ingat yang pernah kutuliskan? materi yang kusampaikan di keputrian tentang hijrah kekinian yang ketika kumenjelaskan ada salah satu isi PPT yang kutampilkan “Bagaimana cara menghadapi lingkungan dan orangtua dengan perubahan yang terjadi pada kita dengan signifikan?” ku beri mereka jawaban “dengan memberikan lingkungan dan orang tua kita pengertian.” Memang itu benar jawaban yang seharusnya kan?

Hanya saja, aku sendiri masih berada diambang harapan. Tak sepenuhnya lingkungan dan orang tua menerima keputusan. Aku masih terus memperjuangkan keputusan yang mungkin sepele dimata orang tapi bagiku besar harapan. Ketika yang baik saja berusaha menjadi lebih baik dengan penuh harapan. Apalagi aku kan? Yang belum ada baiknya ini memutuskan mengambil harapan. Harapan tentang keputusan melakukan perubahan yaitu melakukan semuanya sesuai ketentuan.

Aku dibesarkan di lingkungan yang biasa saja terhadap agama Islam yang sebenarnya begitu mengagumkan. Ketika aku mengetahui sesuatu yang sebenarnya selama ini salah dan kulakukan, membuatku resah berbulan-bulan. Hingga keputusanku untuk pergi ke kota perantauan. Meminta izin pada orantua untuk mengikhlaskan sungguh susah dan mengharukan. 

Aku masih ingat pertama kali ketika aku pulang dari perantauan. Aku memakai pakaian yang berbeda dari yang orang-orang rumah kenakan. Banyak  yang menentang, oh bukan menentang sih, lebih ke sulit melakukan penerimaan. Sedikit kaget ketika kujelaskan keputusan yang telah matang-matang kufikirkan. Kadang, aku selalu merasa benar dengan keputusan yang telah menjadi pilihan. 

Selalu kujelaskan dengan baik tentang keputusan perubahan. Tapi, sangat sulit ternyata dalam hal penerimaan. Itu salah satu alasan kenapa aku jarang sekali pulang ke rumah yang selau dijadikan orang-orang untuk dirindukan. 

Hidup ini memang pilihan dan aku telah membuat keputusan untuk melakukan perubahan dalam kehidupan. Keputusan yang telah kubuktikan ketika kuberada di ketinggian. Aku berani berbuat demikian karna ini berurusan dengan tuhan. Semogaku agar orang yang kubanggakan memahami maksud keputusan. Memang benar hijrah itu mudah yang sulit itu istiqomah melakukan.

Sabtu, 11 Agustus 2018

Tentang hijrah kekinian

Kamis, 2 Agustus 2018 pukul 15.13, salah satu senior IMM menelfonku 
“assalamu’alaikum, dek sibuk gak?”
“saya jadi panitia muktamar mas”
“besok bisa ngisi keputrian ga dek?”
“loh? Kok saya mas? Terus apa yang mau saya sampaikan?”
“terserah sampean dek, sampaikan saja yang ingin sampean sampaikan. Tergetnya ini anak SMK Muhammadiyah dek, muridnya mas akbar. Mau nggeh?”
“loh mas,  aku ga ngerti harus ngomong apa tapi iyadeh gapapa mas saya coba”
Kebingungan, khawatir, was was semua bercampur jadi satu. Bagaimana bisa mas akbar begitu percaya pada adeknya yang satu ini. Seketika itu juga, aku langsung mehubungi mbak nida’ immawati yang sampe sekarang belum ada gantinya “mbak niid, mas akbar minta tolong ke aku buat ngisi keputrian. Aku harus nyampein apa?” dengan santai mba nida’ membalas pesanku “tentang menutup aurat coba dek.” Ahh pikiran mba nida’ sama persis dengan apa yang ada dikepalaku. Mba nida’  mengirimiku sebuah tulisan tentang pentingnya menutup aurat disuruhnya aku menyampaikan dengan pelan, jelas, dan tegas.
Malam harinya kubuat ppt sederhana untuk mengurangi rasa kegerogianku ketika menghadap adek adek nanti.

Jum’at, 3 Agustus 2018 pukul 11.30
“mas, saya sudah sampai di sekolah” (sambol tenga-tengo akhirnya ketemu mas akbar sambil melambaikan tangan)
“oh iya dek, ayo masuk. Gimana masih grogi? ”
“iyalah mas, grogi bangett. Ini nanti saya ke kelas berapa sih mas?”
“kelas X-X!! dek”
(aku syok)“banyak banget dong mass”
“gapapa lah dek, udah ya mas tinggal jum’atan. Sampean nanti naik ke sana dianter ibu itu”
“okedeh mas”

 Masuk ke kelas kuliat wajah-wajah lelah dan jengkel menatapku. Aku coba tersenyum dan membuka pembicaraan sambil menunjukkan ppt yang telah kubuat semalam. Materi yang kusampaikan pada adek-adek SMK Muhammadiyah Batu kali ini adalah tentang “Hijrah Kekinian.”
 Kujelaskan apa hijrah itu, mengapa kita harus hijrah, harus mulai mana kalau ingin hijrah, gimana cara menghadapi lingkungan dan orang tua dengan perubahan yang terjadi pada diri kita, dan yang paling penting sesuai tema yang kuangkat yaitu kenapa kok kita tidak boleh ikutan hijrah biar keliatan kekinian.
 Respon yang diberikan adek-adek sungguh tak terduga, mereka benar-benar mendengarkan, menyimak bahkan bertanya. Pertanyaan yang menarik yang terus kuingat adalah “kak, kan aku suka main volly terus masak iya aku harus pake gamis sama kerudung gede gitu kak. Pasti ribet.” Aku tersenyum dan memberi jawaban sepengetahuanku.
 Kuceritakan semua perjalananku dari tahun 2014 yang memiliki keinginan untuk berubah. Iya, hanya keinginan dan ku tulis dalam buku harapan. Pelan tapi pasti, tanpa ada paksaan namun ada bullyan yang sesekali. Semua mengalir seperti air, dulunya ku sangat suka memakai celana ketat sekarang perlahan kutinggalkan semua itu dan iya, aku bisa. Dengan jangka waktu yang tidak sebentar.
 Kesukaanku dengan alam telah mengantarkanku ke beberapa gunung. Hingga ku list gunung mana saja yang ingin ku daki. Kuceritakan pada mereka kalau kesukaanku itu tak menghalangiku untuk menutup aurat secara sempurna. Aku masih bisa memakai rok sampai ke puncak walaupun harus jatuh berkali-kali dan itu tak masalah karena itu memang resiko atas pilihan yang telah ku ambil.
 Kesempatan berbicara didepan dengan menyampaikan pengalaman yang begitu berharga benar-benar langka. Apalagi di era milenial dengan generasi muda yang maunya serba instan salah satunya dengan  ikut-ikutan menjadi baik, mendadak berubah, tanpa tau alasan hingga kusebut hijrah kekinian. Bukan salah mereka generasi masa depan,  mereka hanya belum tau benar apa salah yang telah mereka lakukan.
 Demikian sepenggal pengalaman yang semoga bisa menjadikan pelajaran untuk kedepan sehingga bisa membuat kita lebih berhati-hati dalam menjalankan kehidupan yang memang penuh pilihan. 

Senin, 16 Juli 2018

Hari pertama masuk sekolah


Bagi sebagian anak mungkin hari itu adalah hari bahagianya karena semua yang akan dilakukannya serba baru. Dengan diantar orang tua mereka, langit yang cerah menjadi saksi senyum merekah di bibir mereka. Mereka ditunggui di luar kelas sampai waktu pulang sekolah. Melihat mereka semangat, akupun tersenyum. Seandainya dulu ibuk mengantarku pas pertama kali masuk SD mungkin aku tak akan bisa sampai sejauh ini.

 Teringatku 15 tahun yang lalu, aku sama seperti mereka hari ini bahagia karna masuk sekolah SD kelas 1. Bedanya, aku berangkat sendiri karna sekolah yang dekat dengan rumah  dan kedua orang tuaku kerja. Waktu itu aku ingat sekali, semuanya kumpul dihalaman dan nama anak-anak kelas 1 dipanggil untuk masuk sesuai kelas yang telah dibacakan. Semua anak-anak masuk kelas didampingi orang tua mereka. Hingga tinggallah aku sendiri di halaman sekolah karena tak tau harus pergi kemana, sampai ada guru yang merangkulku. Namanya siapa nak? Aku tersenyum dan menyebutkan namaku. Aku masuk kelas dan duduk paling belakang karena semua tempat duduk sudah penuh.

Hari itu terasa lama bagiku, sempat berfikiran aneh keapada orang tuaku kenapa mereka tega tidak mengantarkanku padahal semua teman-temanku diantar, bahkan ditunggu sampai pulang. Sedih? Sangat. Ngambil tabungan, ngambil raport, semua dititipkan ke orang lain kadang diambilkan bapak. Sampai akhirnya aku belajar dengan giat dan membuktikan kalau mereka harusnya mengantarkanku dulu pas pertama sekolah dan mengambilkan raportku. Akhirnya semua usaha dan doaku terkabul, aku menjuarai peringkat 3 pararel ketika aku di kelas 5. Ibuk bangga sekali padaku, dieluh-eluhkannya aku hanya saja cuma saat itu.  Ketika masuk SMP semuanya sama seperti dulu, hingga aku terus berusaha mempertahankan peringkatku sampai akhirnya aku peringkat 2 pararel dan yang mewakili aku untuk maju ke depan pertemuan wali murid saat itu adalah mbak mbak tata usaha yang ada di sana.

Dengan semua yang ibuk lakukan padaku ternyata sangat berpengaruh bagiku. Iya, aku adalah anak kedua dari 3 bersaudara dengan semua jenjang sekolahku harus sama dengan mbak dan adekku juga harus sama denganku. Sampai akhirnya, ketika memasuki jenjang perkuliahan aku memutuskan ingin merantau. Saat itu, ibuk benar-benar menolak keputusanku dengan alasan biaya dan aku perempuan yang akan sendirian di kota perantauan. 

Aku memohon-mohon dan berjanji akan mencari beasiswa agar ibuk tidak keberata, akhirnya ibuk meridhoi aku untuk menuntut ilmu di kota orang. embak sangat mendukung keputusanku itu, walaupun embak dulu kuliah di PTS dekat rumah. Setiddaknya dia tidak ingin adek-adeknya sama dengannya. Semenjak itu aku selalu berani mengambil keputusan yang mungkin berbeda di mata orang lain disekitar.

Pertama kali pulang dari Malang aku memakai kerudung yang lumayan lebar dan sudah tidak mau menggunakan jeans ketat dn pakaian-pakaian ketat yang lain. ibuk kaget dan dikiranya aku ikut aliran-aliran teroris yang sangat dominan saat itu. Sampai kujelaskan kalau ini perintah dan aku hanya bisa berusaha melakukannya.

Iyaps, hari pertama masuk sekolah dan keputusan ibuk 15 tahun yang lalu itu sungguh bermakna. Aku tak akan seberani dan senekat seperti saat ini kalau ibuk selalu mengiyakan  dan mengantarkanku kemana-mana. Mungkin aku sering berpikiran aneh tapi dengan yang kujalani sampai sejauh ini semua fine. Intinya selalu bersyukur dalam berbagai keadaan adalah kunci dari segalanya. Jadi gimana? Masih mau ngeluh? Ahh engga lah yah.. keep semangat yang hari ini pertama masuk sekolah

Kamis, 12 Juli 2018

Benar, aku benar benar kecewa


Sebenarnya, aku selalu berusaha meyakinkan diri. Ah iya, aku yang salah, aku yang gampang terpengaruh. Tapi, lambat laun ku sadari lingkungan berperan penting. Bukan ku menyalahkan, akan tetapi itu benar adanya. Aku yang sangat tidak suka dipaksa, aku yang sangat benci di suruh suruh walaupun itu hal baik tapi kalau aku tak tau alasan kenapa harus melakukannya, aku tetap menolak.

Bicara tentang kecewa, ada kejadian oh, beberapa kejadian yang membuatku ingin menjauhi lingkungan ini. Bayangkan saja, aku selalu berusaha untuk tidak dibonceng lawan jenis. Ketika ditanya
orang : apa alasanmu? Cuma bonceng gitu, biar cepet, udah ga usah alasan.
Aku :  Oke baca QS. Al-Isra’ ayat 32. Masih mau ngebantah?
Orang : Kan ga ada nafsu sih kalo dibonceng ojek online gitu.
Aku : pedomanmu hidupmu apa? Agamamu apa? (ingin rasanya berkata seperti itu) kenyataannya  aku hanya diam dan menghindar.

Bagaimana bisa aku bertahun-tahun berjuang melawan nafsu yang ada dalam diriku, dengan entengnya dihancurkan begitu saja. Dan itu bukan hanya sekali, dua kali tapi berkali-kali. Aku tau resiko yang harus ku terima ketika aku memutuskan itu,. aku siap menerima, aku siap menjalani. Tapi, tolong bantu aku! Aku butuh support dari teman-teman dan orang terdekat.

Kecewaku bertambah ketika diajaknya aku jalan dan 
Orang : kok pakai rok? Aneh sumpah. Mau jadi pusat perhatian?
Aku : udah pernah baca QS. AL-Ahzab ayat 59? Btw, aku ke gunung pakai rok dan ga ada yang aneh. Sedang ini? Hanya jalan dan aku harus pakai celana? 
Orang : ngomong aja cari sensasi
Aku : (ini Indonesia mayoritas umat islam tapi ngerti ga sih petunjuk hidupnya) aku diam dan menghindar.

Aku kecewa, benar-benar kecewa. Memang benar, ketika memutuskan oke, aku hijrah. Maka aku harus menjauhi segala hal yang membuatku jauh dariNya. Nyatanya? Bagaimana aku bisa menjauh dengan lingkunganku yang memang seperti itu. Aku selalu menyalahkan diriku yang gampang sekali ragu. Dan kata “Hijrah itu mudah, yang sulit istiqomah” benar, sangat benar.

semoga aku, kamu dan kalian senantiasa dijaga. Senantiasa bisa saling mengerti sesama. Senantiasa selalu dalam lindunganNya. Dan tidak akan ada kata kecewa lagi untukku dan untuk kalian semua. 

Jumat, 06 Juli 2018

Kampung Idiot, kampung penuh harapan




Di sini selalu ada harapan, banner di depan rumah bina kampung idiot lereng gunung beruk desa karangpatihan, kecamatan balong, kabupaten ponorogo. Merinding sekali saat aku lewat dan melihat rumah di kampung idiot itu. Ternyata kampung itu benar-benar ada. Hanya saja, saat itu kukira jumlah penduduk idiotnya sudah semakin sedikit dan hanya tinggal para orangtua. Rumah-rumah sudah bagus dan sangat layak dihuni bahkan ada yang mempunyai sepedah motor.
Kampung idiot, bukankah kasar sekali julukan itu. Padahal kukira bukan salah mereka menjadi idiot, mungkin waktu itu pemerintah kurang memperhatikan masyarakat di daerah lereng gunung beruk tersebut sehingga mereka kekurangan gizi dan menjadi idiot.
Kejutan di kampung idiot seakan membuatku berungkali kaget dan tak menyangka. Yang pada mulanya aku hanya melihat di televisi dan menulis kampung itu di daftar tempat yang ingin ku kunjungi. Dan kemarin Allah izinkan aku mewujudkan mimpi itu. Bermodal nekat dan google maps. Naik motor pulang pergi Malang - Ponorogo - Malang sehari itu nano nano rasanya. Sepanjang jalan ku hanya berdoa semoga google maps menunjukkan jalan yang benar.
Awal kali aku sampai di desa karangpatihan, sempat kecewa. Rumah disini bagus semua, orangnya juga melakukan kegiatan keseharian mereka secara normal. Hanya saja ku terus berjalan lurus hingga ada petunjuk yang mengarahkan ke gunung beruk. Ketika hampir sampai, aku kaget. Aku disapa salah satu bapak-bapak yang idiot. “Ternyata benar-benar ada, dan masih ada sampai sekarang” gumamku. Karna penasaran dengan tulisan  petunjuk ke gunung beruk tadi, akhirnya ku berjalan ke gunung beruk  yang ternyata dijadikan tempat wisata dan diberdayakan oleh para mahasiswa yang pernah KKN di desa tersebut. Dan semakin membuatku penasaran, akhirnya aku memutuskan naik ke gunung tersebut dan menjumpai ibu-ibu yang tiba-tiba mengajakku bicara dengan tatapan kosong dan bahasa yang kurang jelas, kukira ibu itu juga termasuk idiot di kampung itu. Ku dengarkan dan ku tersenyum akan tetapi ibu-ibu itu tiba-tiba menangis. Berusaha kufahami apa yang ibu itu katakan, ya ibu itu di marahi tetangganya yang  kukira idiot juga.
Sedih dan terharu melihat kehidupan mereka. Sedih karena di zaman yang milenial ini masih ada kampung idiot itu dan terharuku mereka mempunyai semangat hidup yang begitu tinggi. Yaa, kukira mereka benar-benar di bina, mereka ada yang berkebun, ada juga satu keluarga yang menjaga wisata gunung beruk yang disulap menjadi spot-spot foto dengan view alam yang menakjubkan dengan harga yang sangat terjangkau.
Perjalananku kali ini sangat mengesankan. Mungkin sebagian orang bertanya-tanya ketika aku memberitau ingin ke sana karena penasaran, bukan karena penelitian ataupun membawa nama organisasi. Hanya penasaran tapi memberikanku pelajaran hidup yang sangat berkesan. Dunia yang fana ini memang penuh sandiwara,  ketika kita di sini hanya mengeluhkan apa yang telah Allah berikan setiap hari tidak sesuai dengan keinginan kita, bukankah mereka lebih sulit dari kita? Mereka berhak mengeluh tapi mereka tidak pernah tau cara mengeluh karena ada harapan besar di kampung idiot itu, iya kampung harapan yang penuh harapan.

Malang, 6 juli 2018

Minggu, 24 Juni 2018

Aku Bukanlah Aku

Pada malam aku berbisik
Rumahku adalah surgaku itu apa benar adanya?
Tempat pulang yang selalu dirindukan itu apa benar adanya?
Jalanan yang mulai melenggang seakan menjawab
Langit yang mulai berganti warna seakan menegur
Kenapa mempertanyakan hal itu
Bukankah bisa seperti sekarang ini karena adanya tempat pulang itu
Diamku menatap bintang yang ikut mengawasi
Pada hujan aku bergumam yang tiba tiba turun membasahi
Ketahuilah aku seperti memiliki dua kepribadian
Aku bukanlah aku
Aku berbeda di tempat pulang dan di tempat perantauan

Selasa, 05 Juni 2018

Sudah beragama Islam berapa Tahun? (hanya) membaca Al-Qur’an tanpa mentadabburinya?


Kitab suci agama Islam yang begitu mulia, sudahkah kita memuliakannya? Sudahkah kita benar benar mempelajarinya? Sejauh mana pemahaman kita terhadap kitab suci yang begitu mulia itu? Atau membacanya pun kita masih salah panjang pendeknya, tajwidnya, makhorijul hurufnya? Sudah sejak kapan mengenal Islam? Dari lahir bukan? Lalu, apa yang didapat sampai sejauh ini, jika kitab suci yang jadi petunjuk hidup saja jarang disentuh apalagi difahami?
Di zaman yang sangat modern ini, tentunya sangat mudah dijumpai berbagai media pembelajaran yang mengajarkan kita untuk membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar serta cara memahami dan mentadabburinya. Hanya saja, dengan perkembangan tersebut tak menjadikan semua hati seorang muslim tergerak untuk lebih mengamalkannya.
Mungkin saya salah satunya, dengan kesibukan yang saya buat di dunia perkuliahan, organisasi yang saya ikuti serta kegiatan lain yang banyak menyita waktu saya dalam berhubungan dengan Yang Maha Segalanya. Dan saya juga termasuk muslimah yang tak sadar ternyata selama ini saya hanya membaca kitab suci umat islam itu tanpa mentadabburinya, bahkan ada niatan ingin menghafal tapi tak ada niatan sama sekali bagaimana cara saya mentadabburinya.
Miris sekali pengetahuan saya tentang kitab suci yag seharusnya jadi petunjuk hidup setiap umat islam itu. Yang membuat saya semakin yakin dengan membacanya saja sudah mendapatka pahala yang lebih karena ada yang pernah memberitau saya, bahwa “perumpamaan orang yang membaca Al-Qur’an secara terus menerus tanpa faham artinya itu seperti keranjang kotor yang di siram dengan air seacara terus menerus maka keranjang itu tetap akan menjadi bersih walaupun tidak dengan waktu yang singkat.”
Beberapa waktu lalu, saya mengikuti kajian minggu pagi di Masjid Bukhori, sangat kebetulan sekali membahas tentang  bagaimana jika kita selama ini hanya  membaca Al-Qur’an tanpa mentadabburinya? Hal itu dikupas tuntas oleh ustad Ahmad bin sulaiman salah satu Muballigh Muhammadiyah. Dalam ceramah beliau ada beberapa kriteria orang yang jika membaca Al-Qur’an hanya sekedar membaca tanpa mentabburinya:
1.      Seburuk-buruk orang adalah mereka yang memiliki akal tapi tak memikirkan ciptaan Allah.
2.      Termasuk orang yang bodoh, dalam QS. Muhammad ayat 24 telah dijalaskan perintah mentadabburi Al-Qur’an, yang artinya “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?”
3.      Seperti orang Yahudi yang mempunyai angan-angan Kosong, yaitu ketika membaca Al-Qur’an hanya sekedar membaca tanpa mentadabburinya.

Sudah sangat jelas tentang keutamaan mentadabburi Al-Qur’an yang memang menjadi petunjuk hidup bagi setiap umat Islam yang saat ini semakin dilupakan. Bagaimana bisa kita menjalani hidup di dunia ini bertahun tahun tanpa faham pedoman hidup kita? Bukan berarti ketika kita hanya membaca tidak akan mendapatkan pahala, hanya saja bukankah kita sudah Islam sejak lahir? Bukankah dunia secanggih ini bisa memudahkan kita untuk mentadabburi Al-Qur’an?
Tamparan keras bagi diri saya sendiri yang berfikiran pendek tentang memaknai membaca Al-Qur’an tanpa memahainya. Semoga di 10 malam terakhir Ramdahan ini, kita semakin dekat padaNya dengan memaksimalkan Ibadah kita, membaca dan mentadabburi Al-Qur’an salah satunya.
Semoga bermanfaat J

Malang, 21 Ramadhan 1429 H./ 7 Juni 2018

Merdeka yang harus dimerdekakan

Indonesiaku Merdeka Kekayaan alamnya tak diragukan Gunung dan lautan tak pernah luput dari pandangan Bahasa dan budaya tak terhitung d...