Pengikut

Minggu, 13 Januari 2019

Tentang rasa dan asa untuk cinta


Sore menjelang maghrib itu di ruang rapat pusat dakwah muhammadiyah disulap jadi tempat kajian. Dengan pemateri yang bisa dibilang disukai anak muda banget. Tema mahabbatullah menjadi pembahasan hangat sore itu. Pertanyaan-pertanyaan pembuka yang dilontarkan ustadz jadi penggerak hati kita yang mendengarkan, yang ternyata sangat jauh dariNya. Bagaimana memilih, menempatkan, dan mengelola cinta yang memang fitrah?
Proses menuju cinta pastinya diawali dengan adanya jatuh cinta. Ustadz bertanya pada kita tentang indikasi seseorang dinyatakan jatuh cinta, salah satu dari kami ada yang menjawab “seseorang sedang jatuh cinta itu, mereka candu. Mereka candu pada apapun yang berkaitan dengan seseorang yang disukainya.” Ustadz tersenyum dan menjawab setuju dengan jawaban itu. Salah satu kalimat yang kutangkap dari penjelasan ustadz tentang hal tersebut adalah cinta yang benar itu tidak menyakitkan, rindunya pun akan sangat lembut. Berbanding terbalik ketika cita itu tidak benar, rindunya sangat menyakitkan. Bahkan, jika rindu itu menyebabkan sakit didada dan menjalar ke tangan, maka sudah pasti itu adalah gangguan jin. Bisa dibayangkan, semengerikan itu jika kita salah menempatkan cinta kita.
Pastilah semua orang berkata cinta itu fitrah, lalu bagaimana  bisa kita menghindar ataupun untuk tidak jatuh cinta. Di sini, ustadz menjelaskan sebenarnya seorang laki-laki itu memiliki kelemahan dimata dan dimulut. Oleh karena itu, seorang laki-laki jangan pernah memberikan kenyamanan jika dalam hatipun belum siap untuk melangkah ke jenjang lebih serius. Begitu pula perempuan, ia memiliki kelemahan di pendengarannya. Bisa dibayangkan gombalan yang hanya guyonan pun akan terbawa perasaan bisa jadi, kadang pertolongan yang dilakukan lawan jenispun bisa disalah artikan. Seperti itu, jika kita sedikit saja goyah maka cinta itu akan muncul tanpa menyangkutpautkan Allah dalam prosesnya dan itu termasuk zina hati yang menjadikan pengharapan berlebih.
Dalam suatu hadist riwayat muslim, Rasulullah bersabda takutlah pada dunia dan pada  wanita. Sebagai perempuan yang ingin sekali jatuh cinta dengan tepat, aku diam merenung. Ternyata aku selama ini  telah jauh dan kurang paham mengenai penempatan cinta yang seharusnya. Kita pasti bertanya-tanya bagaimana cara mengontrol hati kita jika sudah terlanjur jatuh cinta dengan cara yang salah? Intropeksi diri, ada yang salah dari cara bergaul kita dengan lawan jenis. Kita chattingan dengan tesenyum lalu membayangkannya saja sudah termasuk zina. Jadi betapa tertamparnya hati ini ketika medengar itu.
Nabi SAW bersabda, takutlah kalian pada penyakit “kasmaran” dan nabi menawarkan solusi untuk kita ketika “kasmaran” telah menjangkit hati kita, yang pertama adalah tidak mengembangkan perasaan, dengan contoh jika kita jatuh cinta pada seseorang yang seorganisasi atau sekomunitas dengannya bisa jadi kita harus keluar dari organisasi atau komunitas itu kalau hati kita tidak terkontrol dan dengan melakukan hal tersebutpun kita sudah dikatakan hijrah, jadi hijrah tidak hanya tentang pakaian tapi hati kita juga harus hijrah. Yang kedua bersabar, dengan tidak mengungkapkan perasaan sampai diri kita  berani untuk mengambil langkah selanjutnya. Yang ketiga dengan mempersibuk diri kita dengan ketaatan kepadaNya, menyerahkan semuanya kepada sang pencipta.
Sempat berfikir bagaimana dengan menyebutkan namanya dalam doa sepertiga malam. Hal itu beda tipis dengan zina hati jika kita tidak memiliki tauhid yang kuat.  Iya, semuanya seakan terjawab di sore itu. Gerimis yang tiba-tiba membasahi semakin membuat kami larut dalam kisah cinta yang seharusnya kita peruntukkan pada zat pemilik hati.
Dengan penjelasan yang begitu singkat itu, sebenarnya aku kurang puas. Karena ini perkara cinta, yang datang tiba-tiba tanpa kita mau. Iya, itu artinya ada yang salah dengan hati kita. Kukira kali ini  prasangkaku benar, kita sebagai manusia selalu berharap lebih pada selainNya. Padahal kita selalu berharap surgaNya. Dan tentu saja surga itu tidak mudah dan tidak murah. Jadi sudah sejauh mana usaha kita untuk mendapatkannya? Sudah layakkah kita mendapatkannya? Ketika ditulisanku kemarin mari membenahi mimpi, sekarang mari kita juga membenahi  ukhrowi. Sungguh tulisan ini tamparan bagi diri.
Mari jatuh cintakan cinta kita ke pemilik cinta yang sebenarnya, semoga bermanfaat.^^

Sabtu, 12 Januari 2019

Tentang rasa dan asa untuk cita cita

Prinsip hidup tentang hidup harus bermanfaat bagi orang lain, harus terus berbuat baik, dan tentunya hidup itu adalah amanah, prinsip itu akan selalu melekat sampai kapanpun. Kali ini, aku akan bicara tentang berbagi bukan hanya tentang uang. Bagi sebagian orang berbagi adalah seberapa banyak kita menyisihkan uang untuk orang lain. Di kamus hidupku berbagi adalah membagikan semua yang bisa kita bagikan saat itu juga. Karena yang kumiliki saat ini hanya berupa sebiji ilmu dan rasa empati untuk menolong, maka itu yang akan jadi prioritas untuk berbagi.
Menjadi volunteer adalah pilihan, impian, atau bisa disebut salah satu cita-citaku. Di dunia perkuliahan dengan jurusan yang tidak banyak menyita waktuku, akhirnya aku memilih mejadi kakak-kakak volunteer pengajar bimbingan belajar.  Ada beberapa komunitas yang ku ikuti untuk mewujudkan secuil impian yang bisa dianggap sepele iitu. Dari mengajar anak-anak di pedesaan tanpa sinyal, panti asuhan, anak autis, mengajar anak-anak yang jadi target kristenisasi, sampai anak-anak milenial dengan gadget yang terus ditangan. Pengalaman yang banyak sekali itu membuatku semakin bergairah untuk terus jadi volunteer yang ketika aku datang mereka teriak memanggil namaku dan berebut salaman serta memelukku.
Impianku dari dulu adalah menjadi volunteer di Maluku. Entah kenapa aku bisa memilih tempat itu. Hanya saja, aku ingin bisa mewujudkannya. Sejak saat itu, aku rajin ikut oprec volunteer di bidang pendidikan untuk ditempatkan di pulau-pulau yang belum terjamah teknologi. Walaupun belum ada kesempatan kesana, dan mungkin jatah gagalku masih belum habis. Menjadi volunteer yang dirindukan merupakan prestasi bagi diriku. Menurutku, ketika kita mengajar dan anak-anak nyaman adalah sesuatu yang membanggakan. Karna sulit sekali mengambil hati anak-anak di waktu yang singkat. Dengan aku yang tidak bisa marah dan selalu tersenyum di depan mereka adalah suau kebanggan sendiri juga.
Selama  hampir 4 tahun berada di kota hujan Malang, aku begitu bersyukur dipertemukan dengan orang-orang hebat di sekelilingku. Tidak hanya temen-temen sejurusan  dan sekelas, tapi mereka yang seorganisasi denganku, mereka yang satu kepanitiaan denganku diwaktu yang singkat, mereka yang menemani perjalanan  petualanganku di Alam. Mereka begitu peduli, mereka yang selalu mengingatkan, itulah salah satu motivasi terbesarku untuk selalu berbagi dimanapun dan kapanpun selagi aku mampu. Dalam hal ini, aku tak ingin menyia-nyiakan masa kuliahku yang sebatas duduk di ruang kelas lalu pulang ke kosan.
Banyak sekali pertanyaan yang melintas tentang kesibukan yang sebenarnya lebih tepat hanya ke mengurangi waktu bersantaiku. Dengan melihat orang tua banting tulang dan aku di isini hanya tergeletak di atas kasur, bukankah itu memalukan sekali, yang seharusnya prinsip mahasiswa adalah sebagai agen perubahan. Tapi  bukan berarti hal ini jadi sarana membanggakan diri bahwa diri kita sudah termasuk salah satu agen perubahan.
Tak pernah ada niat membanggakan diri, tulisan yang sederhanan ini mungkin akan selalu jadi pengingat diri dan semua yang membaca tulisan ini. Semoganya, kita termasuk orang-orang  yang senantiasa berbaik hati dan selalu dilindungi. Karna mati tak pernah pamit dalam diri, jadi terus berbuat baik dan selalu mengingat kebaikan orang lain harus ditanamkan dalam diri.

Jumat, 19 Oktober 2018

Perempuan bepergian sendirian, aman?


Malam itu, ada chatt masuk “fi, besok dateng ke wisudaku kan?” seketika itu juga, aku ingat ada janji untuk menghadiri wisuda di Lamongan. Posisiku saat itu ada tugas negara yang mengharuskanku tidak tidur sampai jam 2 pagi dan harus bangun subuh  tepat waktu. Pagi itu, masih berada di kota perantauan dengan fikiran ingin ke Lamongan motoran sendirian dan pegang prinsip harus balik hari itu juga karena ada tugas negara lain yang berdatangan.
Keputusan yang kuambil akhirnya ku berusaha mengajak orang yang bisa mau menerima rencana yang agak gila ini. Dan endingnya, aku motoran sendirian ke Lamongan, bermodalkan maps karena aku sangat tidak hafal jalan walaupun sudah berulang-ulang. Sebelumnya, izinku ke anak kontrakan berangkat dengan teman.
Jam sepuluhku memulai perjalanan dengan penuh kemacetan di Malang. Dengan niat ingin pulang ke Malang hari itu juga maka kecepatanku diambang batas normal biasanya, tanpa nyasar tapi ada sedikit tragedi hp jatuh di rel kereta membuatku positif thinking untuk bisa balik hari itu juga. Jam setengah satu, aku sampai di STIKES Muhammadiyah Lamongan.
Seakan surprise, ku chatt dia kalau aku sudah berada di kampusnya. Bingung, terharu sampai aku lupa kalo  bawa hadiah untuknya. Hadiah yang kuberharap dia bisa  menjadi teman dunia akhirat. Di Lamongan seakan jadi tempat persinggahanku sholat dzhuhur dan ashar. Jam empat, kumemutuskan pamit. Memeriksa maps dan bensin (spidometer rusak) yang menurutku cukup untuk menuju pom bensin selanjutnya.
Dugaanku salah. Di tengah jalan yang kanan kirinya hutan jati tiba-tiba motor yang kukendarai berhenti. Bisa dibayangkan wajahku seperti apa, kaget, syok, takut. Dengan tangan yang sangat dingin kulihat bensin dan ternyata habis tak bersisa. Akhirnya, ku lihat jam yang menunjukkan setengah lima. Bisa dibayangkan lagi, betapa takutnya aku. Ku berjalan pelan dan baru dua langkahh, ada pengendara motor berhenti dan bertanya:
 “kenapa mbak?”
“bensinnya habis mas”
“naik aja mbak, tak dorong dari belakang”
“loh, gapapa mas?”
“iya mbak”
Reflekku langsung naik motor dan didorong melewati hutan yang ternyata sangat panjang dan lebat sampai ada penjual bensin dipinggir jalan. Waktu itu langsung kuisi full karena tak ingin mengulang kejadian yang sama. Drama belum selesai disitu, diperempatan jalan besar tiba-tiba  motor yang kukendarai mati. Bisa dibayangkan lagi betapa paniknya wajahku. Alhamdulillahnya, bisa langsung nyala.
Perjalanan sendirian itu berujung pada view gunung penanggungan yang ternyata aku semakin mendekatinya. Mengikuti maps dan tak pernah hafal jalan sampai  ada panah yang menunjukkanku ternyata lewat cangar.  Fix, kulihat jam ternyata sudah jam lima sore. Semua surat yang pernah kuhafal kumurojaah semua selama perjalanan.
Gelap dan sepi, Suasana itu membuatku jengkel. Tak ada pemandangan yang tidak indah disana, semuanya membuatku tak henti memujiNya. Waktu menunjukkan maghrib dan aku masih dijalanan cangar. Sampai ku tiba diperkampungan yang pernah kulewati pas pulang dari gunung penanggungan 2 tahun lalu. Ku berbelok kearah gapura kampung iu yang ternyata berujung sawah dan banyak segerombolan laki-laki. Bisa dibayangkan lagi betapa takutnya aku waktu itu. Tanpa fikir panjang kuberbalik arah dan akhirnya menemukan jalan yang tadinya tak kulihat.
Lantunan doa tak henti kuucapkan. Sampai kutiba di kota Batu yang taak hentinya kubersyukur. Sampai komisariat tercinta jam setengah tujuh. Dengan wajah bahagia karena sampai dengan selamat kuberitahu mereka kalau aku hari ini ke Lamongan sendirian motoran. Dibilang gila, ga jelas, sok nekat apapun itu kuterima. Intinya aku bahagia
Perempuan bepergian sendirian, bagiku tak ada yang salah. Hanya saja, ada resiko yang memang harus diterima. Akan tetapi, lebih baiknya memang jangan sampai sendirian. Iya, itu menurutku setelah mengalami hal-hal yang  beresiko seperti itu. Pelajaran yang dapat kuambil dari perjalananku kali ini adalah terus berbuat baik pada siapapun. Kita tak pernah tau kapan balasan perbuatan baik kita itu akan terbalas. Lewat hal-hal kecil yang tak pernah kita sadari seperti ketika aku kehabisan bensin ditengah hutan itu. Semoga kita termasuk orang yang berbuat baik, dari baik saja menjadi lebih baik dan dari lebih baik selalu istiqomah menjadi baik.  aamiin

Jumat, 14 September 2018

Prioritas

Semua yang terjadi pada kehidupan ini pastinya akan ada yang jadi prioritas diri. Entah dalam hal apapun, munafik sekali jika tak ada yang jadi prioritas. Selalu mengutamakan dan ada yang dikesampingkan adalah bukti itu jadi prioritas. Menyempatkan waktu hanya sekedar melihat walaupun sesibuk apapun, juga bukti nyata dari sebuah prioritas. Hanya saja yang terjadi dalam diri semuanya ingin kubagi rata, semua ingin ku prioritaskan. Iya, karena aku salah satu orang yan pemikir, berlebihan menyikapi sesuatu, selalu merasa tidak enak pada orang lain. Semua orang didekatku, kuperlakukan sama seperti itu.

Prioritas, Bohong sebenarnya ketika ku memperlakukan semua orang terdekat sama. Ketika prioritas yang memang selalu kuprioritaskan ternyata tidak memprioritaskanku? Aku bisa apa? Memohonnya untuk memprioritaskanku? Sebagai seorang yang beragama Islam yang semua hal sekecil apapun telah diatur dalam kitab suci, bukankah bersikap lebih pada orang lain seperti itu tidak diperbolehkan? Bukankah ada Dia yang seharusnya kita prioritaskan? Bukankah Dia selalu cemburu ketika kita mengutamakan yang lain?

Bicara tentang prioritas, bukan hanya selalu tentang prioritas pemilik hati. Ketika semua hal yang kita lakukan juga ada yang menjadi prioritas dan ada yang hanya  sekedar melakukan agar  diri puas. Mesalnya,  Ketika prioritas utama di perantauan menuntut ilmu dan aku merasa menuntutnya tidak harus duduk dalam kelas, pastinya ku cari kegiatan lain yang artinya prioritasku tetap menuntut ilmu. Jadi? Prioritas tanpa batas bukan? 

Kembali lagi tentang prioritas yang memang identik tentang pemilik hati yang selalu jadi topik hangat pembicaraan para pemuda masa kini. Tak dipungkiri memang hal itu merupakan suatu yang fitrah terjadi. Hanya saja, ada Dia yang lebih pantas untuk dijadikan prioritas hati. Yang seharusnya Dia yang selalu melekat dalam ingatan dimanapun kaki melangkah di bumi. Jadi, sekarang tau kan mana yang harus ada di hati dan mana yang harus didoakan untuk jadi pemilik hati nanti?

Dengan tidak berdekatan, dengan tidak memberi kabar setiap hari, dengan tidak memprioritaskanku seperti ini  membuatku lebih bisa menjaga hati. Apalagi dengan janji-janji manis yang memang tak selayaknya disampaikan telah tersimpan diingatan untuk nanti. Iya nanti, ketika hari itu tiba dan dia yang masih rahasia yang telah Dia siapkan untuk jadi prioritas hati, untuk jadi sosok pemimpin yang menuntun ke jalanNya dalam keadaan yang terbaik nanti.

Rabu, 22 Agustus 2018

Mengapa aku muhammadiyah?


Pertanyaan untukku ini mungkin disimpan sebagian temen-temen kuliah yang memang mayoritas mengikuti ormas sebelah. Dalam tulisan kali ini, mungkin aku akan sedikit rasis karena bicara soal organisasi. Tak ada yang salah dengan aku yang Muhammadiyah dan teman-teman yang bukan, aku selalu berfikiran kita semua pasti mempunyai dalil yang kuat dengan berpedoman Al-Qur’an dan Hadist. Karena hidup ini pilihan, aku lebih memilih muhammadiyah sebagai gerakanku.

Aku dilahirkan di desa yang hampir semua masyarakatnya muhammadiyah, jadi tak ada alasan jika aku tak muhammadiyah pada awalnya. Riwayat pendidikanku pun semuanya di lembaga milik muhammadiyah, dimulai dari TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA), MI Muhammadiyah, MTs Muhammadiyah, SMA Muhammadiyah sampai tempat mengajiku pun TPA Muhammadiyah. Pelajaran Kemuhammadiyahan diajarkan dari MI sampai SMA sangat melekat diingatan. Sayangnya, aku tak begitu memahami mengapa aku harus muhammadiyah.

Hingga aku masuk UIN Malang yang memang muhammadiyah minoritas disini. Begitu terekam diingatan saat pertama kali aku sholat subuh di masjid ulul albab, aku sujud ketika yang lain qunut. Karna ngantuk dan kurang fokus sehingga aku lupa kalau aku sekarang berada di lingkungan berbeda. Aku mulai belajar kebiasaan yang tidak kupelajari sebelumnya. Pertanyaan-pertanyaan semakin sering muncul dikepalaku, kenapa banyak sekali perbedaannya? Jangan-jangan selama ini aku yang keliru? Semua pertanyaanku itu kulimpahkan ke guru ngajiku di rumah. Dengan santai beliau menjawab “ikuti kata hatimu fi, semua yang mereka lakukan tentunya ada dalil yang kuat dan kita tidak boleh sembarang menyalahkan atau membid’ahkan.”

Sejak itu, aku belajar mengapa aku harus memilih muhammadiyah. Kupelajari perbedaan-perbedaan yang begitu mencolok, dan kutanyakan ke guru ngajiku di rumah sampai aku menemukan jawaban yang kuat kalau aku tidak salah memilih muhammadiyah sebagai gerakanku. Bukan berarti yang lain salah, hanya saja aku mendengarkan kata hatiku yang berkeyakinan kalau muhammadiyahlah yang benar. 

Pernah ketika awal tinggal di ma’had, semua doa dibacakan dengan bersuara, sedikit-sedikit bilang al-fatihah, baik  ada orang sakit, meninggal dan lainnya. Aku bingung, ini ada tuntunannya? Lalu dalil yang digunakan kuat? Terus, kok aku tidak pernah diajarkan? Ku tanyakan pada guru ngajiku. Lagi-lagi beliau jawab dengan santai dan jelas.

Tak ada yang lebih indah dari perbedaan dan penerimaan. “Sungguh berat jadi kader muhammadiyah, ragu dan bimbang lebih baik pulang!" Kalimat jendral soedirman itu yang selalu ku ingat saat aku meyakinkan diri kalau pilhanku ini benar dan hanya untuk orang-orang yang mau berjuang. Dididik dan dikader di lembaga milik muhammadiyah dari kecil salah satu faktor mengapa aku muhammadiyah. Faktor lain, muhammadiyah cenderung lebih santai tapi tegas dalam menanggapi problematika kehidupan. Hanya saja dalam penghormatan pada para guru, ulama dan kyai, teman-teman lebih soal itu. Kulihat dari bagaimana teman-teman bersikap kepada para ustadz dan ustadzah.

Dengan NU dan muhammadiyah yang berbeda bukan berarti memecah belah Indonesia. Kita hidup berdampingan, saling melengkapi, saling menghargai. Tak ada unsur kesengajaan ingin rasis atau mendoktrin siapapun, ini hanya jawaban dari pertanyaan mengapa aku muhammmadiyah. Tidak ada yang salah disini, kita sebagai manusia hanya bisa berusaha menjadi baik untuk tempat terakhir yang terbaik. Semoga kita selalu dalam lindunganNya dan selalu semangat beribadah  untuk meraih tempat terbaik disisiNya. 

Sabtu, 18 Agustus 2018

Dear keputusan


Masih ingat yang pernah kutuliskan? materi yang kusampaikan di keputrian tentang hijrah kekinian yang ketika kumenjelaskan ada salah satu isi PPT yang kutampilkan “Bagaimana cara menghadapi lingkungan dan orangtua dengan perubahan yang terjadi pada kita dengan signifikan?” ku beri mereka jawaban “dengan memberikan lingkungan dan orang tua kita pengertian.” Memang itu benar jawaban yang seharusnya kan?

Hanya saja, aku sendiri masih berada diambang harapan. Tak sepenuhnya lingkungan dan orang tua menerima keputusan. Aku masih terus memperjuangkan keputusan yang mungkin sepele dimata orang tapi bagiku besar harapan. Ketika yang baik saja berusaha menjadi lebih baik dengan penuh harapan. Apalagi aku kan? Yang belum ada baiknya ini memutuskan mengambil harapan. Harapan tentang keputusan melakukan perubahan yaitu melakukan semuanya sesuai ketentuan.

Aku dibesarkan di lingkungan yang biasa saja terhadap agama Islam yang sebenarnya begitu mengagumkan. Ketika aku mengetahui sesuatu yang sebenarnya selama ini salah dan kulakukan, membuatku resah berbulan-bulan. Hingga keputusanku untuk pergi ke kota perantauan. Meminta izin pada orantua untuk mengikhlaskan sungguh susah dan mengharukan. 

Aku masih ingat pertama kali ketika aku pulang dari perantauan. Aku memakai pakaian yang berbeda dari yang orang-orang rumah kenakan. Banyak  yang menentang, oh bukan menentang sih, lebih ke sulit melakukan penerimaan. Sedikit kaget ketika kujelaskan keputusan yang telah matang-matang kufikirkan. Kadang, aku selalu merasa benar dengan keputusan yang telah menjadi pilihan. 

Selalu kujelaskan dengan baik tentang keputusan perubahan. Tapi, sangat sulit ternyata dalam hal penerimaan. Itu salah satu alasan kenapa aku jarang sekali pulang ke rumah yang selau dijadikan orang-orang untuk dirindukan. 

Hidup ini memang pilihan dan aku telah membuat keputusan untuk melakukan perubahan dalam kehidupan. Keputusan yang telah kubuktikan ketika kuberada di ketinggian. Aku berani berbuat demikian karna ini berurusan dengan tuhan. Semogaku agar orang yang kubanggakan memahami maksud keputusan. Memang benar hijrah itu mudah yang sulit itu istiqomah melakukan.

Sabtu, 11 Agustus 2018

Tentang hijrah kekinian

Kamis, 2 Agustus 2018 pukul 15.13, salah satu senior IMM menelfonku 
“assalamu’alaikum, dek sibuk gak?”
“saya jadi panitia muktamar mas”
“besok bisa ngisi keputrian ga dek?”
“loh? Kok saya mas? Terus apa yang mau saya sampaikan?”
“terserah sampean dek, sampaikan saja yang ingin sampean sampaikan. Tergetnya ini anak SMK Muhammadiyah dek, muridnya mas akbar. Mau nggeh?”
“loh mas,  aku ga ngerti harus ngomong apa tapi iyadeh gapapa mas saya coba”
Kebingungan, khawatir, was was semua bercampur jadi satu. Bagaimana bisa mas akbar begitu percaya pada adeknya yang satu ini. Seketika itu juga, aku langsung mehubungi mbak nida’ immawati yang sampe sekarang belum ada gantinya “mbak niid, mas akbar minta tolong ke aku buat ngisi keputrian. Aku harus nyampein apa?” dengan santai mba nida’ membalas pesanku “tentang menutup aurat coba dek.” Ahh pikiran mba nida’ sama persis dengan apa yang ada dikepalaku. Mba nida’  mengirimiku sebuah tulisan tentang pentingnya menutup aurat disuruhnya aku menyampaikan dengan pelan, jelas, dan tegas.
Malam harinya kubuat ppt sederhana untuk mengurangi rasa kegerogianku ketika menghadap adek adek nanti.

Jum’at, 3 Agustus 2018 pukul 11.30
“mas, saya sudah sampai di sekolah” (sambol tenga-tengo akhirnya ketemu mas akbar sambil melambaikan tangan)
“oh iya dek, ayo masuk. Gimana masih grogi? ”
“iyalah mas, grogi bangett. Ini nanti saya ke kelas berapa sih mas?”
“kelas X-X!! dek”
(aku syok)“banyak banget dong mass”
“gapapa lah dek, udah ya mas tinggal jum’atan. Sampean nanti naik ke sana dianter ibu itu”
“okedeh mas”

 Masuk ke kelas kuliat wajah-wajah lelah dan jengkel menatapku. Aku coba tersenyum dan membuka pembicaraan sambil menunjukkan ppt yang telah kubuat semalam. Materi yang kusampaikan pada adek-adek SMK Muhammadiyah Batu kali ini adalah tentang “Hijrah Kekinian.”
 Kujelaskan apa hijrah itu, mengapa kita harus hijrah, harus mulai mana kalau ingin hijrah, gimana cara menghadapi lingkungan dan orang tua dengan perubahan yang terjadi pada diri kita, dan yang paling penting sesuai tema yang kuangkat yaitu kenapa kok kita tidak boleh ikutan hijrah biar keliatan kekinian.
 Respon yang diberikan adek-adek sungguh tak terduga, mereka benar-benar mendengarkan, menyimak bahkan bertanya. Pertanyaan yang menarik yang terus kuingat adalah “kak, kan aku suka main volly terus masak iya aku harus pake gamis sama kerudung gede gitu kak. Pasti ribet.” Aku tersenyum dan memberi jawaban sepengetahuanku.
 Kuceritakan semua perjalananku dari tahun 2014 yang memiliki keinginan untuk berubah. Iya, hanya keinginan dan ku tulis dalam buku harapan. Pelan tapi pasti, tanpa ada paksaan namun ada bullyan yang sesekali. Semua mengalir seperti air, dulunya ku sangat suka memakai celana ketat sekarang perlahan kutinggalkan semua itu dan iya, aku bisa. Dengan jangka waktu yang tidak sebentar.
 Kesukaanku dengan alam telah mengantarkanku ke beberapa gunung. Hingga ku list gunung mana saja yang ingin ku daki. Kuceritakan pada mereka kalau kesukaanku itu tak menghalangiku untuk menutup aurat secara sempurna. Aku masih bisa memakai rok sampai ke puncak walaupun harus jatuh berkali-kali dan itu tak masalah karena itu memang resiko atas pilihan yang telah ku ambil.
 Kesempatan berbicara didepan dengan menyampaikan pengalaman yang begitu berharga benar-benar langka. Apalagi di era milenial dengan generasi muda yang maunya serba instan salah satunya dengan  ikut-ikutan menjadi baik, mendadak berubah, tanpa tau alasan hingga kusebut hijrah kekinian. Bukan salah mereka generasi masa depan,  mereka hanya belum tau benar apa salah yang telah mereka lakukan.
 Demikian sepenggal pengalaman yang semoga bisa menjadikan pelajaran untuk kedepan sehingga bisa membuat kita lebih berhati-hati dalam menjalankan kehidupan yang memang penuh pilihan. 

Merdeka yang harus dimerdekakan

Indonesiaku Merdeka Kekayaan alamnya tak diragukan Gunung dan lautan tak pernah luput dari pandangan Bahasa dan budaya tak terhitung d...