Teriknya matahari tak pernah sedikitpun
melemahkan semangatku untuk kerja. Oh ya, perkenalkan aku
anak kedua dari tujuh bersaudara. Dibesarkan ibu seorang diri di desa. Ayahku? Dia
pergi meninggalkan ibuku saat aku kelas 4 SD. Memori itu jelas teringat saat
sore menjelang maghrib seperti biasanya ibuku menyiapkan makanan untuk kami
semua. Ibu menunggu kepulangan ayah sampai tengah malam di depan pintu rumah. Tak
ada kata yang ditinggalkan ayah saat itu. Keesokan harinya ada renternir yang
ingin menyita rumahku, ah seperti sinetron saja hidupku namun itu memang
terjadi. Hingga akhirnya kami pindah ke desa kelahiran ibu tanpa ayah.
Ibu membesarkan kami dengan sekuat tenaga. Apapun
dilakukan agar kami bisa makan. Aku mempunya dua pasang adik kembar yang tentu
memberatkan ibuku saat sekolah karena semuanya harus bersamaan. Dua tahun yang
lalu, kakakku meninggal karena sakit. Dokter bilang penyakitnya sudah lama,
bisa jadi kakakku hanya diam tak ingin memberatkan keluarganya yang memang
sudah pontang-panting untuk bertahan hidup. Terlahir di keluarga ini membuatku
menjadi perempuan sekuat baja, membuatku untuk tidak terlalu berharap pada
manusia karena setelah kejadian itu ibu mengajarkanku harus menaruh harapan
hanya pada Yang menciptakan.
Ditengah pandemi ini, sebenarnya aku dan
keluargaku sudah terbiasa. Kami terbiasa hidup sederhana yang penting bisa
makan. Kami sekeluarga bekerja di pabrik pengolahan ikan, eh kecuali adikku
kembar yang paling kecil. Nasib keluarga kami termasuk lebih beruntung karena
pihak pabrik masih memperkerjakan kami walaupun gaji yang kami terima dipotong
hampir 50%. Aku mengira banyak diluar sana yang lebih susah dari kami. Namun yang
paling kusesali adalah ketika aku melihat di tv, justru ojek online yang paling
disorot padahal banyak dari kami juga merasakan kekurangan di tengah pandemi
ini.
Ah benar, kata ibuku musibah semacam ini pasti
terjadi dan rakyat kecil seperti kami sudah lumayan terlatih. Melakukan apapun
demi mendapatkan uang halal sudah menjadi rutinitas sebelum kami bekerja di
pabrik itu. Terlatih namun hatiku masih kadang hancur saat melihat ibuku
menangis sendiri di dapur melihat karung beras sudah tak berisi. ah iya, aku
ingin sekali mengirim pesan ke pak presiden kalau kami terlahir sebagai rakyat
kecil tak pernah berharap lebih dan tak akan mengguncang jabatan bapak, hanya
saja kami ingin keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia itu ada di sini
karena pandemi ini sangat berdampak pada kami.
Cerita sederhana yang semoga menggugah kita untuk selalu bersyukur
Ramadhan menulis part 9
Tema: Nasib rakyat kecil ditengah pandemi