Pengikut

Sabtu, 23 Mei 2020

Malam ahad istimewa



Malam ahad ini berbeda
Ada takbir yg terus menggema
Dengan diri tetap harus di rumah

Malam ahad ini berbeda
Ada Ramadhan pamit meninggalkan
Dengan keinginan kebaikan terus berjalan

Malam ahad ini berbeda
Ada yg menahan rindu
Dengan harap lekas berakhir dan bertemu

Malam ahad ini berbeda
Ada ramadhan dengan sejuta kebaikan
Dengan corona dan sejuta harapanT

Tapi, malam ahad ini istimewa
Ada kamu dan aku di bawah langit yg sama
Dengan doa dan harap yg selalu sama

Semoga kebaikan yg kita tanam di ramadhan tetap melekat
Semoga harapan setelah corona berakhir tidak hanya tercatat
Selamat hari raya idul fitri dengan terus menebar kebaikan tanpa sekat

Sabtu, 09 Mei 2020

Penghujung


Alhamdulillah hari ini, hari terakhir ramadhan menulis. Tak banyak yang akan kusampaikan untuk teman-teman yang telah membersamai dan teman-teman yang dengan setia selalu membaca tulisan.


Dari sekian tulisan banyak yang ku ambil dari kisah hidupku dan orang sekitar yang memang dalam setiap kejadian ada banyak pelajaran.

Sekali lagi terimakasih, Ramadhan menulis ini juga telah membuatku semakin sadar kalau menulis bukan perihal sulit tapi mau atau tidak untuk terus belajar dan memperbanyak membaca.


Ramadhan menulis ini salah satunya yang paling banyak memberikanku pelajaran. Melihat teman-teman yang mempunyai semangat menulis dan bisa menghasilkan tulisan yang selalu dinantikan.

Apalagi ditengah wabah ini, menjadikan sebagian waktuku lebih bernanfaat. Semoga setelah ini di sepuluh malam terakhir kita bisa dikhusu’kan dengan ibadah dengan berdoa agar wabah segera berakhir. 


Di penghujung membuatku tersanjung, banyak komentar positif dari teman-teman lain yang terus melihat postingan story. Dengan menanyakan loh itu lomba fi? Atau ngapain? Ehehe. Seneng rasaya bisa melewati ini. Eh gimana kabar Ramadhanmu? Semoga baik yaa, aku juga hehe. Semoga semakin dekat dengan hari kemenangan membuat kita juga semakin bersemangat meningkatkan ibadah



Jumat, 08 Mei 2020

Yang telah terlahir


Teriknya matahari tak pernah sedikitpun melemahkan semangatku untuk kerja. Oh ya, perkenalkan aku anak kedua dari tujuh bersaudara. Dibesarkan ibu seorang diri di desa. Ayahku? Dia pergi meninggalkan ibuku saat aku kelas 4 SD. Memori itu jelas teringat saat sore menjelang maghrib seperti biasanya ibuku menyiapkan makanan untuk kami semua. Ibu menunggu kepulangan ayah sampai tengah malam di depan pintu rumah. Tak ada kata yang ditinggalkan ayah saat itu. Keesokan harinya ada renternir yang ingin menyita rumahku, ah seperti sinetron saja hidupku namun itu memang terjadi. Hingga akhirnya kami pindah ke desa kelahiran ibu tanpa ayah.
Ibu membesarkan kami dengan sekuat tenaga. Apapun dilakukan agar kami bisa makan. Aku mempunya dua pasang adik kembar yang tentu memberatkan ibuku saat sekolah karena semuanya harus bersamaan. Dua tahun yang lalu, kakakku meninggal karena sakit. Dokter bilang penyakitnya sudah lama, bisa jadi kakakku hanya diam tak ingin memberatkan keluarganya yang memang sudah pontang-panting untuk bertahan hidup. Terlahir di keluarga ini membuatku menjadi perempuan sekuat baja, membuatku untuk tidak terlalu berharap pada manusia karena setelah kejadian itu ibu mengajarkanku harus menaruh harapan hanya pada Yang menciptakan.
Ditengah pandemi ini, sebenarnya aku dan keluargaku sudah terbiasa. Kami terbiasa hidup sederhana yang penting bisa makan. Kami sekeluarga bekerja di pabrik pengolahan ikan, eh kecuali adikku kembar yang paling kecil. Nasib keluarga kami termasuk lebih beruntung karena pihak pabrik masih memperkerjakan kami walaupun gaji yang kami terima dipotong hampir 50%. Aku mengira banyak diluar sana yang lebih susah dari kami. Namun yang paling kusesali adalah ketika aku melihat di tv, justru ojek online yang paling disorot padahal banyak dari kami juga merasakan kekurangan di tengah pandemi ini.
Ah benar, kata ibuku musibah semacam ini pasti terjadi dan rakyat kecil seperti kami sudah lumayan terlatih. Melakukan apapun demi mendapatkan uang halal sudah menjadi rutinitas sebelum kami bekerja di pabrik itu. Terlatih namun hatiku masih kadang hancur saat melihat ibuku menangis sendiri di dapur melihat karung beras sudah tak berisi. ah iya, aku ingin sekali mengirim pesan ke pak presiden kalau kami terlahir sebagai rakyat kecil tak pernah berharap lebih dan tak akan mengguncang jabatan bapak, hanya saja kami ingin keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia itu ada di sini karena pandemi ini sangat berdampak pada kami.




Cerita sederhana yang semoga menggugah kita untuk selalu bersyukur
Ramadhan menulis part 9
Tema: Nasib rakyat kecil ditengah pandemi

Kamis, 07 Mei 2020

Ingin bosan namun tak pantas


Assalamualaikum warohmatullai wabarokatuh :-)
Bagaimana kabarnya? Semoga selalu baik ya. Kali ini memasuki ramadhan menulis part 8, antara sedih akan segera berakhir dan senang karena sudah tidak ada deadline lagi ehehehe.  Ketika bicara wabah pasti kita sudah mulai jenuh, bosan dan ingin segera beranjak dari rumah. Hanya saja itu tak pantas untuk kuucapkan. Banyak dari kita seakan menutup diri dengan segala keberkahan yang ada ini dan erus menerus mengeluhkan keadaan.
Ingin bosan namun tak pantas ketika melihat lalu lalang bapak gojek dengan segala keterbatasannya tetap melakukan pekerjaan yang mengharuskan mereka untuk tidak dirumah. Apalagi dengan sepinya orderan akrena orang-orang takut untuk memesan di luar.
Ingin bosan namun tak pantas ketika melihat ibuk-ibuk pagi buta pergi ke pasar dengan segala harap mereka agar dagangan yang dijualnya segera habis yang nyatanya kadang mereka harus rela sayuran dan buah-buahan masih banyak sampai membusuk.
Ingin bosan namun tak pantas ketika melihat bapak penjual kayu atau sejenis perabotan kayu yang dibopong dnegan pundak atau dengan menggunakan sepedah pancal berkeliling dari ujung ke ujung menantikan ada orang yang memanggil untuk membeli
Ingin bosan namun tak pantas, siapa aku ini berani-beraninya bosan dengan kegiatan ditengah wabah padahal banyak sekali yang ingin diposisi ini. Mari kita buka mata lebar-lebar, memakanai semuanya dengan sudut pandang positif ketika kita ingin bosan karena apa yang kita bosankan ini adalah mimpi para pejuang yang berada di jalanan. Eh, ini pesan untukku juga.



Ramadhan menulis part 8

Rabu, 06 Mei 2020

Pena Keabadian

Semenjak ada ramadhan menulis, banyak ide dadakan yang kadang ga jelas tiba-tiba muncul. Yang biasanya harus ada ide dulu baru buka notbuk kesayangan eh sekarang pas buka notbuk kesayangan harus ada ide ehehhe. Dan seperti saat ini, di part ke tujuh aku berulangkali mengeluh buntu padahal belum kucoba. Itu mungkin yang biasanya orang-orang omongkan “biasaa, maklum perempuan ya gitu.” Ribet sekali aku ini.
Membaca dan menulis sebenarnya bukan keahlian atau hobiku, namun setelah melihat ternyata hanya ini yang bisa membekas tapi bukan luka akhirnya aku memutuskan untuk memaksakan diri agar mau membaca dan menulis. Padahal dulu waktu masih sekolah ketika disuruh nulis hobinya apa, aku pasti menulis membaca sebagai hobiku yang realitanya tidak sama sekali eheheh. Sebelum mengenal blog inipun, buku harian jadi saksi dalam mengambil manfaat setiap kejadian eh banyak ngeluhnya malah dan itu bukan masalah kan cuma aku yang baca. :D
Aku menyebut pena keabadian, pena dalam arti tulisan. Eh itu hanya pengertian dariku disini. :D Kenapa abadi? Karena tidak ada yang banyak bisa kita tinggalkan kecuali kebaikan dan coretan tangan bukan harta warisan. Dalam pena keabadian inipun aku ingin mengukir setidaknya sedikit dari cerita kehidupan yang bisa kuabadikan walaupun kurang berkesan dimata kalian. 
Dibulan suci ramadhan ini juga waktu yang tepat untuk mengabadikan target dan realita lewat pena sederhana. Bisa jadi akan menjadi evaluasi diri paling kompeten karena sifatnya abadi. Semoga saja dengan hanya tulisan bisa membangkitkan keimanan di bulan Ramadhan. Selamat mengistiqomahkan keimanan dengan pena keabadian. :)



Ramadhan menulis part 7
Tema: Ramadhan dan pena

Selasa, 05 Mei 2020

Sebuah Penerimaan



Selamat malam, sudah selesai tilawah kan? J kali ini, aku hanya ingin bercerita tentang penerimaan yang kupelajari pelan-pelan. Menjalani kehidupan di perantauan memang yang ku inginkan sejak duduk dibangku menengah atas. Lambat laun, aku justru terjebak dalam kenyamanan yang telah kubuat. Kemudian aku sering membanding-bandingkan hidupku saat tak ada yang kulakukan alias nganggur. Yang ternyata malah membuatku tidak pernah bisa menerima semua kejadian dengan baik.
Mencari pembelaan, seolah-olah paling sengsara. Buruk sekali memang tabiat itu namun dari situ pula aku belajar adanya penerimaan. Bahwasannya semua yang terjadi tidak selalu seperti yang kita impikan. Belajar akan adanya penerimaan dengan menyadari kalau setelah usaha harus ada tawakkal bukan memaksakan kehendak.
Di ramadhan kali ini, setelah bertahun-tahun tidak pernah berada di rumah membuatku sadar ternyata dalam hidup harus ada yang namanya penerimaan. Salah satunya menerima kalau orangtua memang selalu ingin bersama anaknya. Pernah dengar kalau anak itu selalu ingin lari dari rumah karena tidak tahan dengan pola pikir orangtua yang selalu membandingkan dengan kehidupannya zaman dahulu? Aku pernah baca tapi lupa di mana atau dibuku apa. Dan itu ternyata wajar terjadi tapi semakin kesini kitapun harus belajar adanya penerimaan. Kita yang harus memahami bukan menghakimi dan pergi.
Memang benar dibulan yang suci ini kita harus bersihkan hati juga. Pelajaran buatku atau kalian yang membaca dan merasa hal yang sama atau malah ada yang tidak terima dengan tulisan sederhana ini itu hak kalian. Dari sini, semoga kita banyak belajar tentang penerimaan dan tidak selalu menyalahkan keadaan karena jangan-jangan kita sendiri yang menjebak diri kita untuk tidak bisa menerima keadaan.


Ramadhan menulis part 6
Tema: Menjadi pribadi yg lebih baik di bulan Ramadhan

Senin, 04 Mei 2020

Tulisan yang tulus


Pertama kali menulis dulu, kelas dua mi (madrasah ibtidaiyah) di buku tulis yang digunting bentuknya buah-buahan, walaupun yang ditulis cuma kegiatan sehari-hari sekelas buku diary lah ya ehehe. Yang ternyata berdampak pada aktivitas yang kujalani saat itu. Jadi semangat bantu ibuk, semangat belajar, semangat mengaji karena malu ketika buku harianku itu hanya berisi sekolah dan tidur.
Tulisan tulus kumulai saat itu, benar-benar tulus sesuai apa yang kurasakan. Dan selanjutnya tulisan memang selalu tulus. Tulisan selalu lebih menjelaskan apa adanya dibandingkan dengan pembicaraan. Tulisan selalu memiliki kekuatan tesendiri ketika kita membacanya. Benar bukan? Kita pasti pernah merasa merinding hanyan dengan membaca tulisan, atau kita pernah sampai menangis atau marah hanya dengan membaca tulisan.
Tidak boleh meremehkan setiap tulisan, itu yang kutanamkan. Setiap orangpun pasti tulus ketika menuliskan dengan cara penyampaian yang telah mereka fikirkan. Jadi cobalah menulis, mungkin itu akan sedikit melegakan dari adanya ribuan kata yang telah ada tapi belu mtersalurkan. Atau cobalah membaca kemudian rasakan kekuatan tulisan tersebut.
Selamat menghasilkan tulisan yang tulus :)


Ramadhan menulis part 5
Tema : menjadi pribadi hebat lewat tulisan

Minggu, 03 Mei 2020

Apa Kabar Ramadhanmu? :)


Apa kabar Ramadhanmu?
Semoga baik-baik saja ya, jangan seperti hatiku, eh hehehe. Pasti berbeda dengan ramadhan tahun sebelumnya kan? Pasti dibenak kita ada rasa “enak tahun kemarin ya, bisa buka bersama, ngabuburit, sahur bareng dan hal seru lainnya.” Padahal suatu saat nanti kita pasti lebih banyak cerita tentang ramadhan kali ini. Ada banyak kebaikan yang tersimpan dalam setiap kejadian.
Apa kabar Ramadhanmu?
Jangan terlalu meratapi, percayalah ramadhan kali ini ada beribu pelajaran untuk kita agar lebih banyak bersyukur, selalu ingat dengan sesama, dan tentunya kita akhirnya menyadari ada beberapa dalam hidup kita yang harus diperbaiki lagi.
Apa kabar Ramadhanmu?
Sudah sampai juz berapa? Semoga dengan dirumah aja ini justru menggairahkan semangat kita. Minimal sehari ada tiga halaman yang dibaca dong. Eh, ini pengingat untukku juga. Sholat sunnahpun harus mulai ditingkatkan walaupun masih setengah-setengah, minimal selalu ada usaha. 
Apa kabar Ramadhanmu?
Masih semangat kan? dengan keadaan serba terbatas, rindupun sudah ditampung tanpa batas tentunya menjadikan diri kita semakin bermuhasabah, menjadikan diri kita lebih menghargai pertemuan. Bersemangatlah mengukir cerita di ramadhan kali ini, karena mengeluhkan keadaan pun bukan solusi.


Ramadhan menulis part 4
Tema : Puasa dan pelajaran kehidupan

Sabtu, 02 Mei 2020

Sederhana tentang Pendidikan

Selamat Hari Pendidikan
Akan selalu ada banyak semoga untuk keadaan pendidikan ini. Dengan kondisi wabah semakin menjadi-jadi, membuat pendidikan negeri masih sebagian belum bisa terkondisi. Dunia pendidikan memang menyenangkan. Jika ada sebagian orang senang di kantor bertemu dengan komputer atau benda mati lainnya, berbeda dengan dunia pendidikan yang setiap hari harus berinteraksi dengan makhluk hidup yang memiliki karakter menakjubkan. 
Begitu mulianya seluruh pendidik yang sudah mau mendedikasikan waktunya untuk mendidik anak-anak manusia dengan sepenuh hati. Aku yakin semua pendidik mempunyai keinginan yang terbaik untuk anak didiknya walaupun dengan ribuan masalah yang sedang dihadapinya. Pendidikan memang kunci kemajuan negeri ini. Anak-anak yang muda diharapkan membantu dengan belajar membaca dan menulis agar tidak diperdaya orang luar, bukankah begitu? 
Ah ya, salam pendidikan dariku yang sampai saat ini terus belajar memaknai arti pendidikan. Beribu lantunan doa untuk semua pendidik negeri ini, yang selalu bersedia menyusuri jalanan untuk sekedar berbagi cerita, yang bersedia berangkat pagi pulang sore untuk sekedar menyambung ilmu. Dariku yang selalu belajar untuk menjadi pendidik agar bisa memberi contoh ini semoga pendidikan di Indonesia bisa terkoreksi, para pendidik pun senantiasa terus intropeksi untuk kebaikan negeri karena pendidik berbeda dengan guru kursus, mereka istimewa dan akan selalu teristimewa bagi negeri.


Ramadhan menulis part 3
Tema: mengembalikan marwah pendidikan ditengah pandemi

Jumat, 01 Mei 2020

Negeri ini saling membohongi



Selamat hari buruh sedunia
Di liburan corona yang kesekian membuatku selalu mencari tau hal-hal baru tentang bagaimana cara belajar masyarakat adat yang belum mengenal dunia modern. Aku selalu tertarik dengan kekayaan negeri ini. Ternyata banyak dari kelompok mereka belum bisa membaca dan bahkan enggan belajar membaca. Yang sangat jadi masalah adalah masyarakat di negeri sendiri membohongi mereka dengan tak tau diri. Negeri yang mempunyai kekayaan alam yang luar biasa ini bisa-bisanya menjatuhkan sesama masyarakat sendiri. Menebang pohon tanpa mempertimbangkan kehidupan masyarakat didalamnya menjadi kebiasaan yang wajar untuk menyelamatkan kebutuhan ekonomi diri sendiri.
Aku begitu merinding ketika dengan mudahnya mereka membohongi. Sedangkan yang dibohongipun selalu mengiyakan saja karena tertipu makanan modern sekardus. Banyak ternyata yang akhirnya kuketahui. Dari bagaimana masyarakat negeri saling membohongi, ada sebagian lembaga masyarakat yang tidak dipertanggungjawabkan arah dan geraknya, bahkan pemerintahan yang dari rakyatpun seakan tak mau tau. 
Dariku yang hanya seorang pembelajar dan rakyat biasa ini, hanya bisa sedih dan termangu. Bagaimana tidak, aku lahir dan besar di tempat yang semuanya sudah terpenuhi nyatanya tidak ada kontribusi untuk negeri. Bahkan aku baru tau ternyata semenyeramkan itu kehidupan di kelompok yang belum terjamah teknologi. Mereka butuh pendidikan yang bisa mengerti keadaan mereka. Ah ya, aku ingat perkataan mas fawwaz dibukunya yang menyublim disela hujan "pendidikan itu yang datang dengan belajar bukan mengajar. yang berpihak, bukan yang mensubordinatkan." Ternyata aku memang harus lebih banyak belajar, karena negeri ini harus baik-baik saja. Denganku yang tidak bisa berbuat banyak, maka setidaknya yang kulakukan tidak boleh sama dengan mereka yang mengaku masyarakat negeri ini ternyata saling membohongi.


Ramadhan menulis part 2
Tema: Lingkungan hidup dan ekonomi global

Merdeka yang harus dimerdekakan

Indonesiaku Merdeka Kekayaan alamnya tak diragukan Gunung dan lautan tak pernah luput dari pandangan Bahasa dan budaya tak terhitung d...