Pengikut

Minggu, 16 Agustus 2020

Merdeka yang harus dimerdekakan

Indonesiaku Merdeka

Kekayaan alamnya tak diragukan

Gunung dan lautan tak pernah luput dari pandangan

Bahasa dan budaya tak terhitung dengan tangan

Indonesiaku Merdeka

Orang kaya di negeri ini semakin kaya

Orang miskin di negeri inipun semakin miskin

Jeritan masyarakat dikalangan bawah tak pernah dihiraukan

Indonesiaku Merdeka

Merdeka hanya milik mereka penguasa

Merdeka yang ternyata masih kata-kata

Merdeka ini harusnya bisa dirasakan semua

Indonesiaku yang merdeka

Merdekamu harus benar dimerdekakan

Agar sila kelima pancasilapun tak terabaikan

Benar, keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia

Dirgahayu Indonesiaku ke-75

Rabu, 01 Juli 2020

Hilangnya Adab di Zaman Peradaban


Sebelumnya mari kenalan dengan kata adab dan peradaban. Ringan saja, adab seperti yang sering kita dengar adalah tentang tata krama, kesopanan. Sedangkan peradaban adalah tingkat kemajuan ilmu pengetahuan dan pendidikan. Tentu saja jika digabungkan menjadi tata krama di tingkat kemajuan ilmu pengetahuan dan pendidikan. Terjun di dunia pendidikan serta melihat sosial media yang semakin merajalela banyak sekali pro kontra tentang bagaimana menjadi manusia yang beradab di zaman peradaban.
Seringkali kita merasa bahwa telah melakukan hal yang benar, padahal itu sesuatu yang tidak beradab. Seiring berjalannya waktu dan berada di tempat yang berbeda ternyata adab yang sering digembor-gemborkan oleh khalayak orang karena milenial hari ini seperti kehilangan adab. Sebenarnya tidak lebih kehilangan adab tapi bagaimana para orang tua lebih mengenalkan adab yang ada dan dipertahankan di tempatnya dengan memperlakukan seseorang sesuai dengan kebiasaan yang ada disekitarnya. Karena sekali lagi, adab tidak selalu tentang penghormatan yang ada dipikiran kita. Dari bukunya ibu butet yang pernah kubaca ketika orang rimba menyerahkan buku ke gurunya itu dengan dilempar karena mereka merasa itu cara menghormati guru mereka agar guru mereka tidak menunggu lama. Bukankah itu tidak sopan dari sudut pandang kita? Yang padahal seperti itulah adab menurut mereka, dan tidak ada yang salah mereka berbuat demikian saat di lingkungan dan kebiasaan mereka memang seperti itu.
Hilangnya adab di zaman peradaban ini sangat terlihat jelas ketika kita saling menyalahkan dan mengaku benar. Apalagi dengan mengaku bahwa dirinya manusia paling beradab. Kalau kata bapak toto rahardjo “Belajar dari pengalaman, yang dipelajari bukan sekedar “ajaran” teori, pendapat, kesimpulan, wejangan, nasehat, khotbah, pidato dari seseorang, tetapi belajar dari peristiwa, keadaan nyata.” Menjadi manusia yang beradab di zaman peradaban ini memang sedikit susah, karena kita pendek berfikir dan asal melakukan. 
Anak milenial yang hari ini sering disangkal dengan kehilangan adabnya memang nyata. Banyak dari milenial tidak sadar dengan hal yang dilakukannya karena tidak pernah berfikir panjang ketika akan melakukan sehingga hampir tidak pernah benar kelakuan mereka menurut orang yang lebih lama menjalani kehidupan. Tidak ada yang salah, hanya saja kesadaran diri tetap jadi peling utama. Saling mengingatkanpun juga tidak susah namun kembali lagi sekedar anggapan seringkali jadi pesan terabaikan. 
Dimulai dari diri untuk menghentikan adab yang mulai hilang di zaman peradaban ini. Berhenti asal menuduh, berhenti mengklaim diri sebagai yang paling beradab karena itu yang semakin mengesalkan untuk bersikap beradab. Pesan ini untuk semuanya, termasuk para orangtua yang telah lama di dunia, juga untuk anak muda yang punya fikiran seenaknya tanpa berkaca dari yang lama. Percayalah, adab tidak akan hilang dari peradaban ketika kita tidak asal berprasangka dan terus belajar dari realita, bukan sekedar katanya.

Sabtu, 23 Mei 2020

Malam ahad istimewa



Malam ahad ini berbeda
Ada takbir yg terus menggema
Dengan diri tetap harus di rumah

Malam ahad ini berbeda
Ada Ramadhan pamit meninggalkan
Dengan keinginan kebaikan terus berjalan

Malam ahad ini berbeda
Ada yg menahan rindu
Dengan harap lekas berakhir dan bertemu

Malam ahad ini berbeda
Ada ramadhan dengan sejuta kebaikan
Dengan corona dan sejuta harapanT

Tapi, malam ahad ini istimewa
Ada kamu dan aku di bawah langit yg sama
Dengan doa dan harap yg selalu sama

Semoga kebaikan yg kita tanam di ramadhan tetap melekat
Semoga harapan setelah corona berakhir tidak hanya tercatat
Selamat hari raya idul fitri dengan terus menebar kebaikan tanpa sekat

Sabtu, 09 Mei 2020

Penghujung


Alhamdulillah hari ini, hari terakhir ramadhan menulis. Tak banyak yang akan kusampaikan untuk teman-teman yang telah membersamai dan teman-teman yang dengan setia selalu membaca tulisan.


Dari sekian tulisan banyak yang ku ambil dari kisah hidupku dan orang sekitar yang memang dalam setiap kejadian ada banyak pelajaran.

Sekali lagi terimakasih, Ramadhan menulis ini juga telah membuatku semakin sadar kalau menulis bukan perihal sulit tapi mau atau tidak untuk terus belajar dan memperbanyak membaca.


Ramadhan menulis ini salah satunya yang paling banyak memberikanku pelajaran. Melihat teman-teman yang mempunyai semangat menulis dan bisa menghasilkan tulisan yang selalu dinantikan.

Apalagi ditengah wabah ini, menjadikan sebagian waktuku lebih bernanfaat. Semoga setelah ini di sepuluh malam terakhir kita bisa dikhusu’kan dengan ibadah dengan berdoa agar wabah segera berakhir. 


Di penghujung membuatku tersanjung, banyak komentar positif dari teman-teman lain yang terus melihat postingan story. Dengan menanyakan loh itu lomba fi? Atau ngapain? Ehehe. Seneng rasaya bisa melewati ini. Eh gimana kabar Ramadhanmu? Semoga baik yaa, aku juga hehe. Semoga semakin dekat dengan hari kemenangan membuat kita juga semakin bersemangat meningkatkan ibadah. 



Jumat, 08 Mei 2020

Yang telah terlahir


Teriknya matahari tak pernah sedikitpun melemahkan semangatku untuk kerja. Oh ya, perkenalkan aku anak kedua dari tujuh bersaudara. Dibesarkan ibu seorang diri di desa. Ayahku? Dia pergi meninggalkan ibuku saat aku kelas 4 SD. Memori itu jelas teringat saat sore menjelang maghrib seperti biasanya ibuku menyiapkan makanan untuk kami semua. Ibu menunggu kepulangan ayah sampai tengah malam di depan pintu rumah. Tak ada kata yang ditinggalkan ayah saat itu. Keesokan harinya ada renternir yang ingin menyita rumahku, ah seperti sinetron saja hidupku namun itu memang terjadi. Hingga akhirnya kami pindah ke desa kelahiran ibu tanpa ayah.
Ibu membesarkan kami dengan sekuat tenaga. Apapun dilakukan agar kami bisa makan. Aku mempunya dua pasang adik kembar yang tentu memberatkan ibuku saat sekolah karena semuanya harus bersamaan. Dua tahun yang lalu, kakakku meninggal karena sakit. Dokter bilang penyakitnya sudah lama, bisa jadi kakakku hanya diam tak ingin memberatkan keluarganya yang memang sudah pontang-panting untuk bertahan hidup. Terlahir di keluarga ini membuatku menjadi perempuan sekuat baja, membuatku untuk tidak terlalu berharap pada manusia karena setelah kejadian itu ibu mengajarkanku harus menaruh harapan hanya pada Yang menciptakan.
Ditengah pandemi ini, sebenarnya aku dan keluargaku sudah terbiasa. Kami terbiasa hidup sederhana yang penting bisa makan. Kami sekeluarga bekerja di pabrik pengolahan ikan, eh kecuali adikku kembar yang paling kecil. Nasib keluarga kami termasuk lebih beruntung karena pihak pabrik masih memperkerjakan kami walaupun gaji yang kami terima dipotong hampir 50%. Aku mengira banyak diluar sana yang lebih susah dari kami. Namun yang paling kusesali adalah ketika aku melihat di tv, justru ojek online yang paling disorot padahal banyak dari kami juga merasakan kekurangan di tengah pandemi ini.
Ah benar, kata ibuku musibah semacam ini pasti terjadi dan rakyat kecil seperti kami sudah lumayan terlatih. Melakukan apapun demi mendapatkan uang halal sudah menjadi rutinitas sebelum kami bekerja di pabrik itu. Terlatih namun hatiku masih kadang hancur saat melihat ibuku menangis sendiri di dapur melihat karung beras sudah tak berisi. ah iya, aku ingin sekali mengirim pesan ke pak presiden kalau kami terlahir sebagai rakyat kecil tak pernah berharap lebih dan tak akan mengguncang jabatan bapak, hanya saja kami ingin keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia itu ada di sini karena pandemi ini sangat berdampak pada kami.




Cerita sederhana yang semoga menggugah kita untuk selalu bersyukur
Ramadhan menulis part 9
Tema: Nasib rakyat kecil ditengah pandemi

Kamis, 07 Mei 2020

Ingin bosan namun tak pantas


Assalamualaikum warohmatullai wabarokatuh :-)
Bagaimana kabarnya? Semoga selalu baik ya. Kali ini memasuki ramadhan menulis part 8, antara sedih akan segera berakhir dan senang karena sudah tidak ada deadline lagi ehehehe.  Ketika bicara wabah pasti kita sudah mulai jenuh, bosan dan ingin segera beranjak dari rumah. Hanya saja itu tak pantas untuk kuucapkan. Banyak dari kita seakan menutup diri dengan segala keberkahan yang ada ini dan erus menerus mengeluhkan keadaan.
Ingin bosan namun tak pantas ketika melihat lalu lalang bapak gojek dengan segala keterbatasannya tetap melakukan pekerjaan yang mengharuskan mereka untuk tidak dirumah. Apalagi dengan sepinya orderan akrena orang-orang takut untuk memesan di luar.
Ingin bosan namun tak pantas ketika melihat ibuk-ibuk pagi buta pergi ke pasar dengan segala harap mereka agar dagangan yang dijualnya segera habis yang nyatanya kadang mereka harus rela sayuran dan buah-buahan masih banyak sampai membusuk.
Ingin bosan namun tak pantas ketika melihat bapak penjual kayu atau sejenis perabotan kayu yang dibopong dnegan pundak atau dengan menggunakan sepedah pancal berkeliling dari ujung ke ujung menantikan ada orang yang memanggil untuk membeli
Ingin bosan namun tak pantas, siapa aku ini berani-beraninya bosan dengan kegiatan ditengah wabah padahal banyak sekali yang ingin diposisi ini. Mari kita buka mata lebar-lebar, memakanai semuanya dengan sudut pandang positif ketika kita ingin bosan karena apa yang kita bosankan ini adalah mimpi para pejuang yang berada di jalanan. Eh, ini pesan untukku juga.



Ramadhan menulis part 8

Rabu, 06 Mei 2020

Pena Keabadian

Semenjak ada ramadhan menulis, banyak ide dadakan yang kadang ga jelas tiba-tiba muncul. Yang biasanya harus ada ide dulu baru buka notbuk kesayangan eh sekarang pas buka notbuk kesayangan harus ada ide ehehhe. Dan seperti saat ini, di part ke tujuh aku berulangkali mengeluh buntu padahal belum kucoba. Itu mungkin yang biasanya orang-orang omongkan “biasaa, maklum perempuan ya gitu.” Ribet sekali aku ini.
Membaca dan menulis sebenarnya bukan keahlian atau hobiku, namun setelah melihat ternyata hanya ini yang bisa membekas tapi bukan luka akhirnya aku memutuskan untuk memaksakan diri agar mau membaca dan menulis. Padahal dulu waktu masih sekolah ketika disuruh nulis hobinya apa, aku pasti menulis membaca sebagai hobiku yang realitanya tidak sama sekali eheheh. Sebelum mengenal blog inipun, buku harian jadi saksi dalam mengambil manfaat setiap kejadian eh banyak ngeluhnya malah dan itu bukan masalah kan cuma aku yang baca. :D
Aku menyebut pena keabadian, pena dalam arti tulisan. Eh itu hanya pengertian dariku disini. :D Kenapa abadi? Karena tidak ada yang banyak bisa kita tinggalkan kecuali kebaikan dan coretan tangan bukan harta warisan. Dalam pena keabadian inipun aku ingin mengukir setidaknya sedikit dari cerita kehidupan yang bisa kuabadikan walaupun kurang berkesan dimata kalian. 
Dibulan suci ramadhan ini juga waktu yang tepat untuk mengabadikan target dan realita lewat pena sederhana. Bisa jadi akan menjadi evaluasi diri paling kompeten karena sifatnya abadi. Semoga saja dengan hanya tulisan bisa membangkitkan keimanan di bulan Ramadhan. Selamat mengistiqomahkan keimanan dengan pena keabadian. :)



Ramadhan menulis part 7
Tema: Ramadhan dan pena

Selasa, 05 Mei 2020

Sebuah Penerimaan



Selamat malam, sudah selesai tilawah kan? J kali ini, aku hanya ingin bercerita tentang penerimaan yang kupelajari pelan-pelan. Menjalani kehidupan di perantauan memang yang ku inginkan sejak duduk dibangku menengah atas. Lambat laun, aku justru terjebak dalam kenyamanan yang telah kubuat. Kemudian aku sering membanding-bandingkan hidupku saat tak ada yang kulakukan alias nganggur. Yang ternyata malah membuatku tidak pernah bisa menerima semua kejadian dengan baik.
Mencari pembelaan, seolah-olah paling sengsara. Buruk sekali memang tabiat itu namun dari situ pula aku belajar adanya penerimaan. Bahwasannya semua yang terjadi tidak selalu seperti yang kita impikan. Belajar akan adanya penerimaan dengan menyadari kalau setelah usaha harus ada tawakkal bukan memaksakan kehendak.
Di ramadhan kali ini, setelah bertahun-tahun tidak pernah berada di rumah membuatku sadar ternyata dalam hidup harus ada yang namanya penerimaan. Salah satunya menerima kalau orangtua memang selalu ingin bersama anaknya. Pernah dengar kalau anak itu selalu ingin lari dari rumah karena tidak tahan dengan pola pikir orangtua yang selalu membandingkan dengan kehidupannya zaman dahulu? Aku pernah baca tapi lupa di mana atau dibuku apa. Dan itu ternyata wajar terjadi tapi semakin kesini kitapun harus belajar adanya penerimaan. Kita yang harus memahami bukan menghakimi dan pergi.
Memang benar dibulan yang suci ini kita harus bersihkan hati juga. Pelajaran buatku atau kalian yang membaca dan merasa hal yang sama atau malah ada yang tidak terima dengan tulisan sederhana ini itu hak kalian. Dari sini, semoga kita banyak belajar tentang penerimaan dan tidak selalu menyalahkan keadaan karena jangan-jangan kita sendiri yang menjebak diri kita untuk tidak bisa menerima keadaan.


Ramadhan menulis part 6
Tema: Menjadi pribadi yg lebih baik di bulan Ramadhan

Senin, 04 Mei 2020

Tulisan yang tulus


Pertama kali menulis dulu, kelas dua mi (madrasah ibtidaiyah) di buku tulis yang digunting bentuknya buah-buahan, walaupun yang ditulis cuma kegiatan sehari-hari sekelas buku diary lah ya ehehe. Yang ternyata berdampak pada aktivitas yang kujalani saat itu. Jadi semangat bantu ibuk, semangat belajar, semangat mengaji karena malu ketika buku harianku itu hanya berisi sekolah dan tidur.
Tulisan tulus kumulai saat itu, benar-benar tulus sesuai apa yang kurasakan. Dan selanjutnya tulisan memang selalu tulus. Tulisan selalu lebih menjelaskan apa adanya dibandingkan dengan pembicaraan. Tulisan selalu memiliki kekuatan tesendiri ketika kita membacanya. Benar bukan? Kita pasti pernah merasa merinding hanyan dengan membaca tulisan, atau kita pernah sampai menangis atau marah hanya dengan membaca tulisan.
Tidak boleh meremehkan setiap tulisan, itu yang kutanamkan. Setiap orangpun pasti tulus ketika menuliskan dengan cara penyampaian yang telah mereka fikirkan. Jadi cobalah menulis, mungkin itu akan sedikit melegakan dari adanya ribuan kata yang telah ada tapi belu mtersalurkan. Atau cobalah membaca kemudian rasakan kekuatan tulisan tersebut.
Selamat menghasilkan tulisan yang tulus :)


Ramadhan menulis part 5
Tema : menjadi pribadi hebat lewat tulisan

Minggu, 03 Mei 2020

Apa Kabar Ramadhanmu? :)


Apa kabar Ramadhanmu?
Semoga baik-baik saja ya, jangan seperti hatiku, eh hehehe. Pasti berbeda dengan ramadhan tahun sebelumnya kan? Pasti dibenak kita ada rasa “enak tahun kemarin ya, bisa buka bersama, ngabuburit, sahur bareng dan hal seru lainnya.” Padahal suatu saat nanti kita pasti lebih banyak cerita tentang ramadhan kali ini. Ada banyak kebaikan yang tersimpan dalam setiap kejadian.
Apa kabar Ramadhanmu?
Jangan terlalu meratapi, percayalah ramadhan kali ini ada beribu pelajaran untuk kita agar lebih banyak bersyukur, selalu ingat dengan sesama, dan tentunya kita akhirnya menyadari ada beberapa dalam hidup kita yang harus diperbaiki lagi.
Apa kabar Ramadhanmu?
Sudah sampai juz berapa? Semoga dengan dirumah aja ini justru menggairahkan semangat kita. Minimal sehari ada tiga halaman yang dibaca dong. Eh, ini pengingat untukku juga. Sholat sunnahpun harus mulai ditingkatkan walaupun masih setengah-setengah, minimal selalu ada usaha. 
Apa kabar Ramadhanmu?
Masih semangat kan? dengan keadaan serba terbatas, rindupun sudah ditampung tanpa batas tentunya menjadikan diri kita semakin bermuhasabah, menjadikan diri kita lebih menghargai pertemuan. Bersemangatlah mengukir cerita di ramadhan kali ini, karena mengeluhkan keadaan pun bukan solusi.


Ramadhan menulis part 4
Tema : Puasa dan pelajaran kehidupan

Sabtu, 02 Mei 2020

Sederhana tentang Pendidikan

Selamat Hari Pendidikan
Akan selalu ada banyak semoga untuk keadaan pendidikan ini. Dengan kondisi wabah semakin menjadi-jadi, membuat pendidikan negeri masih sebagian belum bisa terkondisi. Dunia pendidikan memang menyenangkan. Jika ada sebagian orang senang di kantor bertemu dengan komputer atau benda mati lainnya, berbeda dengan dunia pendidikan yang setiap hari harus berinteraksi dengan makhluk hidup yang memiliki karakter menakjubkan. 
Begitu mulianya seluruh pendidik yang sudah mau mendedikasikan waktunya untuk mendidik anak-anak manusia dengan sepenuh hati. Aku yakin semua pendidik mempunyai keinginan yang terbaik untuk anak didiknya walaupun dengan ribuan masalah yang sedang dihadapinya. Pendidikan memang kunci kemajuan negeri ini. Anak-anak yang muda diharapkan membantu dengan belajar membaca dan menulis agar tidak diperdaya orang luar, bukankah begitu? 
Ah ya, salam pendidikan dariku yang sampai saat ini terus belajar memaknai arti pendidikan. Beribu lantunan doa untuk semua pendidik negeri ini, yang selalu bersedia menyusuri jalanan untuk sekedar berbagi cerita, yang bersedia berangkat pagi pulang sore untuk sekedar menyambung ilmu. Dariku yang selalu belajar untuk menjadi pendidik agar bisa memberi contoh ini semoga pendidikan di Indonesia bisa terkoreksi, para pendidik pun senantiasa terus intropeksi untuk kebaikan negeri karena pendidik berbeda dengan guru kursus, mereka istimewa dan akan selalu teristimewa bagi negeri.


Ramadhan menulis part 3
Tema: mengembalikan marwah pendidikan ditengah pandemi

Jumat, 01 Mei 2020

Negeri ini saling membohongi



Selamat hari buruh sedunia
Di liburan corona yang kesekian membuatku selalu mencari tau hal-hal baru tentang bagaimana cara belajar masyarakat adat yang belum mengenal dunia modern. Aku selalu tertarik dengan kekayaan negeri ini. Ternyata banyak dari kelompok mereka belum bisa membaca dan bahkan enggan belajar membaca. Yang sangat jadi masalah adalah masyarakat di negeri sendiri membohongi mereka dengan tak tau diri. Negeri yang mempunyai kekayaan alam yang luar biasa ini bisa-bisanya menjatuhkan sesama masyarakat sendiri. Menebang pohon tanpa mempertimbangkan kehidupan masyarakat didalamnya menjadi kebiasaan yang wajar untuk menyelamatkan kebutuhan ekonomi diri sendiri.
Aku begitu merinding ketika dengan mudahnya mereka membohongi. Sedangkan yang dibohongipun selalu mengiyakan saja karena tertipu makanan modern sekardus. Banyak ternyata yang akhirnya kuketahui. Dari bagaimana masyarakat negeri saling membohongi, ada sebagian lembaga masyarakat yang tidak dipertanggungjawabkan arah dan geraknya, bahkan pemerintahan yang dari rakyatpun seakan tak mau tau. 
Dariku yang hanya seorang pembelajar dan rakyat biasa ini, hanya bisa sedih dan termangu. Bagaimana tidak, aku lahir dan besar di tempat yang semuanya sudah terpenuhi nyatanya tidak ada kontribusi untuk negeri. Bahkan aku baru tau ternyata semenyeramkan itu kehidupan di kelompok yang belum terjamah teknologi. Mereka butuh pendidikan yang bisa mengerti keadaan mereka. Ah ya, aku ingat perkataan mas fawwaz dibukunya yang menyublim disela hujan "pendidikan itu yang datang dengan belajar bukan mengajar. yang berpihak, bukan yang mensubordinatkan." Ternyata aku memang harus lebih banyak belajar, karena negeri ini harus baik-baik saja. Denganku yang tidak bisa berbuat banyak, maka setidaknya yang kulakukan tidak boleh sama dengan mereka yang mengaku masyarakat negeri ini ternyata saling membohongi.


Ramadhan menulis part 2
Tema: Lingkungan hidup dan ekonomi global

Kamis, 30 April 2020

Belajar memahami ditengah pandemi


Semenjak wabah corona ini menyebar membuat sekolah dialihkan di rumah, semua pekerjaan dialihkan di rumah, ribuan karyawan di PHK, dan masih banyak pihak yang sangat dirugikan. Semenjak wabah corona ini menyebar juga membuat sebagian waktu kuhabiskan untuk membaca, walaupun itu novel ehehe. Dampak dari corona yang paling terasa adalah orangtua. Selain harus work from home, mereka juga harus mendampingi anak mereka yang juga belajar di rumah.
Berjalan dua bulan tentu membuat anak-anak jenuh, orangtuapun sudah mulai mengeluh, guru hanya bisa memberi petuah-petuah agar mereka kembali patuh. Nyatanya itu tidak mudah. Bukan perkara salah siapa atau harus ditanggungjawabkan untuk siapa. Ini tanggungjawab bersama, butuh kesadaran bersama karena datangnya pandemi ini pun bukan rencana. Jadi haruslah saling memahami ditengah pandemi ini.
Dariku yang juga terkena dampak dari pandemi ini, melihat anak-anak yang sudah mulai enggan mengerjakan tugas, sudah mulai enggan membaca pesan yang kukirimkan. Aku yakin mereka mulai bosan dengan tidak ada uang jajan, tidak bertemu teman, hanya dengan tugas yang jadi pemandangan. Hanya saja dalam hal ini, akupun masih belajar agar mereka tidak menyalahkan keadaan, tidak mengeluhkan guru karena selalu memberikan tugas yang mereka sebenarnya butuh dijelaskan.
Aku yakin dengan mereka yang memang dari didikan orangtua yang disiplin akan selalu mengerjakan tugas dengan rajin. Eh bukan berarti ada orangtua yang tidak disiplin, aku yakin semua orangtua menginginkan yang terbaik hanya saja dalam hal belajar anak-anak memang butuh stimulus khusus dari orangtua seperti kata mbak najeela shihab.
Dalam hal ini aku pun sama dengan mereka, sama-sama terus belajar. Seperti kata ibu butet manurung “saya belajar menjadi guru dari ketidaksempurnaan guru-guru di sepanjang hidup saya. Sedangkan guru idola saya adalah murid-murid saya.” Dari sinipun aku yang hanya seorang perempuan yang akan terus belajar bersama mereka dengan mencoba tidak menyalahkan mereka ketika merekapun sudah mulai bosan dengan pembelajaran serba dirumah ini. Semoga dengan adanya pandemi ini menjadikan pelajaran yang berturut-turut bagiku ataupun semuanya. Belajar memahami diri ditengah pandemi ketika biasanya ingin sekali libur dan di rumah aja sekarang malah ingin menyibukkan diri di aktifitas yang menguras tenaga tapi menyenangkan.


Bumi membaiklah, ada sejuta doa untukmu.


Ramadhan menulis part 1
Tema : WFH, tanggung jawab guru atau ortu?

Jumat, 17 April 2020

Menebar Senyuman Kebaikan


Setiap hari ahad pagi setengah siang saat itu selalu jadi hari yang kunantikan di semester akhir perkuliahan yang hanya ada mata kuliah skripsi dan PKL. Aku yang berada di Kota Malang selama ini ternyata tidak sadar, bahwa ada kehidupan yang berdampingan dengan awan yang butuh bantuan. Kehidupan yang berdampingan dengan awan itu ada di desa lereng gunung yang punya pemandangan memanjakan mata tapi tidak dengan kesehariannya.
Di desa tersebut ada masjid dan gereja berdampingan, tapi keduanya sangat sepi. Kalau gereja yang biasannya hari ahad ada pemujaan, tak ada suara gesekan sandal pun yang masuk ke gereja itu. Sedang masjid yang harusnya dipakai sholat ternyata adzan pun tak ada yang mengumandangkan. Sedihku berkecamuk saat aku menemukan tempat seindah itu tapi sedikit semangat beribadahnya mereka.
Dihari sebelum ahad pagi setengah siang yang selalu kunantikan itu, aku bertemu ibu-ibu warga desa itu. “Buk, kalau misalnya saya ngajak temen saya kesini untuk meramaikan masjid dan ngajak anak-anak disini boleh?” ibuk itu tanpa ragu menjawab “silahkan mbak, nanti saya bilangkan ke RT sini.” Sejak itu, hari ahad pagi setengah siangku berubah. Jika biasanya aku hanya tiduran di kamar, mulai hari itu aku berjanji dengan diriku kalau kebaikan berbagi tidak harus mewah dan harus disegerakan, karena berbagi akan membuat hidup kita semakin berarti.
Apalagi di zaman se milenial ini, semua terfasilitasi ketika kita ingin berbagi. Salah satunya kewajiban yang diam-diam dilupakan sebagian orang. Zakat, rukun islam yang mengajarkan kita untuk selalu mengingat ada orang yang butuh bantuan kita. Dengan Dompetdhuafa.org memudahkan kita ketika ingin menyempurnakan rukun islam. Tidak ada alasan bermalas-malasan lagi untuk menunaikan kewajiban di zaman yang seba mudah ini.
Dalam menanggapi musibah saat ini misalnya, aku tak sehebat Dompetdhuafa.org yang bisa menyalurkan bantuan langsung kepada mereka yang membutuhkan. Akupun hanya bisa menebar senyuman kebaikan kepada mereka di sekitar yang butuh asupan energi positif. Di kehidupan yang berdampingan dengan awan itupun, tak hentiku tersenyum dari awal sampai akhir hanya untuk melihat semangat belajar agama mereka.
Tak hentiku berdebar saat aku tanyai mereka “besok kalau ke masjid bawa al-qur’an ya dek” mereka serentak menjawab “gak punya kak, sudah jelek” aku terdiam kaget menatap mereka. Bisa dibayangkan di desa yang berdampingan awan itu tidak mempunyai kitab suci yang layak dan seharusnya di baca setiap hari. Akhirnya, hari itu aku memutuskan bercerita dengan tak henti menebar senyuman kebaikan. Karena anak-anak adalah pemerhati ulung, ketika mereka melihat orang yang lebih dewasa dari mereka tentu saja mereka akan menirunya. Hanya dengan tersenyum menenangkan dan menahan amarah ketika mereka berbuat salah menjadi daya tarik kita untuk mereka supaya kita selalu didengar.
menjadi baik itu mudah dan murah, hanya dengan menebar senyuman kebaikan akan memberikan energi positif yang melihatnya. Berhenti menyikapi sesuatu yang salah dengan amarah, berikanlah senyuman kebaikan sebagai obat penahan marah. Cobalah praktekan saat sedang berkendara dan ada bapak-bapak yang membantu menyebrangkan jalan untukmu lalu tersenyumlah, itu akan melegakan bapak tersebut atau kepada para penjual makanan yang kita temui dijalanan dengan memberikan senyuman dan sapaan yang ramah. Sesederhana itu untuk menebar kebaikan. Tak ada alasan lagi untuk tidak berbagi dengan orang disekitar kita. Semoga dengan tulisan sederhana ini, mengingatkan kita untuk selalu menebarkan energi positif dengan senyuman kebaikan.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Menebar Kebaikan yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa.


Malang, detik-detik menjelang Ramadhan

Minggu, 16 Februari 2020

Tepat waktu

Waktu menunjukkan semakin tua bumi yg indah ini. Sedang manusia tetap saja dengan perilaku yg sedikit menjengkelkan pada bumi yg indah ini. Jadi begini, pagi itu aku berjalan sendirian dengan sedikit nyanyian. Melihat kiri kanan yg semuanya diam menunduk dengan hp ditangan, Aku bergumam "dunia ini semakin menggila, hp pun sekarang jadi nyawa." Aku terus berjalan dengan buku yg ku tenteng dan hp yg berulangkali kulihat padahal tidak ada notif.
Sampai akhirnya aku sampai ditujuanku, perpustakaan. Entah sejak kapan aku menfavoritkan tempat yg penuh buku ini. Sesekali aku baca buku tentang agama hingga akhirnya aku teringat saat sebelum sampai ditahap ini, aku dulu yg masih berpakaian ala kadarnya (eh, bukan berarti sekarang sudah baik tapi lumayanlah dari yg dulu) selalu update status di fesbuk tentang bagaimana menutup aurat yg baik, tentang aku yg puasa sunnah, bangun tahajjud, mungkin itu jadi banyak sekali ria'nya yg padahal aku yakin dulu niatku agar para teman2ku tau kalau agama kita itu mengajarkan yg baik padahal aku sendiri masih ga karuan agamanya.
Memaksakan kehendak jadi kebiasaan buruku saat itu. Sok alim dengan bikin status yg sok baik di fesbuk, sok sudah tau agama banyak dengan ngomong ngalur ngidul, sok paling pintar dengan banggain diri sendiri. Padahal semua punya waktunya masing-masing. Hari ini bisa jadi aku terlihat baik tapi besok? Tidak ada yg tau. Hari ini bisa jadi dia terlihat buruk tapi besok? Jangan-jangan dia malah lebih baik dariku. 
Dariku yg mulai belajar membaca buku, ternyata ilmuku masih sekecil  anak semut. Dengan buku aku mulai belajar karakter orang dengan tidak memaksakan kehendak. Aku mulai belajar ternyata semua orang punya waktu untuk belajar, belajar apapun itu baik agamanya maupun sosialnya. Tak ada yg tak tepat waktu, semuanya sudah terskenario dengan rapi. Kita hanya perlu belajar, tidak hanya di sekolah atau di kampus karena sejatinya kita adalah guru bagi diri kita.
Teriknya matahari membuyarkan lamunanku yg sebenarnya mata menatap buku tapi fikiranku ke masa lalu sampai masa yg kujalani  yg ternyata membuatku sadar bahwa aku sudah hampir setengah hari di ruang penuh buku. Menarik nafas panjang jadi penenang sesaat sebelum aku meninggalkan tempat sejuta ilmu. Baiklah mulai saat ini aku harus belajar mengenal diri, aku yakin semuanya akan tepat waktu tanpa harus menghalukan harapan yg berlebihan, gumamku sambil tersenyum hangat menatap lalu lalang orang haus ilmu.


Malang, malam senin

Sabtu, 14 September 2019

anak berhak dibela

Selamat untuk semuanya yang menikmati liburan. Selamat untuk semuanya yang tak pernah menyerah untuk mimpinya. Selamat untuk semuanya yang selalu berhasil mengalahkan egonya. Dalam satu titik kehidupan, aku telah menemukan begitu mudahnya seseorang untuk menghancurkan mimpi orang lain, mencemooh orang lain, dan menusuk pelan-pelan untuk mewujudkan hasrat nafsunya. diantaranya, mengatakan hal yang tidak perlu dikatakan pada seorang anak.
Aku belajar memahami setiap karakter setiap anak sejak aku merasa anak tidak boleh diperlakukan sama dan seenaknya. Setiap anak memiliki kemampuan untuk mimpinya, untuk apa yang ingin dicapainya. Sebagai seorang yang lebih dewasa atau lebih tua bukankah seharusnya mendukung? atau memotivasi? iya, itu seharusnya. Kenyataannya dewasa ini banyak sekali orang deasa atau lebih tua menjatuhkan mental psikologis anak dengan mengatainya di depan umum, menjudge dia bodoh, menjudge bahwa dia tidak munkin menggapai mimpinya yang super aneh itu.
Dalam setiap rangkaian kehidupan, pasti ada masalah. tugas kita menyelesaikannya, bukan menyalahkan orang lain apalagi melampiaskan pada anak. Menjadi seorang pendidik merupakan salah satu mimpiku. Dan setelah kubelajar islam, ternyata semua orang wajib menjadi pendidik ketika seseorang itu sudah tau sesuatu maka kewajibannya adalah menyampaikan.
Dalam posisi seorang anak yang mempunyai orang tua possesive sangat memungkinkan menciptakan karakter anak yang suka berbohong, rawan melawan, dan memunculkan sifat kebencian yang terdalam. bisa jadi anak tersebut ketika ada perintah "jangan" maka semakin dia ingin melakukan. Kenapa? karena dia tidak pernah dijelaskan dengan aik alasan kenapa dia tidak boleh mealkukan hal yang dilarang.
Semua orang tua pernah menjadi anak. Hanya saja dalam setiap perkembangan zaman tentunya harus berbeda dalam mendidik seorang anak. Di zaman yang serba milenial ini justru para orang tua harus lebih pintar, lebih tau hal terupdate sehingga bisa menyikapi seorang anak tersebut dengan tepat. Dengan begitu generasi penerus bangsa ini terhindar dari ancaman teknologi yang terus maju dan modern.
Terimakasih sudah mau membaca, semoga bermanfaat dan semoga kita bisa jadi pendidik yang baik serta memahami setiap karakter anak dengan baik sehingga tidak ada namanya anak nakal dan anak bodoh di dunia ini. ^^

Sabtu, 13 Juli 2019

Cintaku harusnya untuk siapa?



Sore itu, dengan cuaca yang sedikit mendung dan jalanan yang lumayan macet tak mengurungkan niat para akhwat (sedikit aneh kalau aku berkata akhwat sebenarnya, apa aku yang aneh ya hehe J). Iya, aku buru-buru dan ujungnya aku telat samapai masjid ahmad yani yang sudah ramai dengan para muslimah yang memakai kerudung sangat lebar, bahkan mayoritas dari mereka bercadar dan mungkin ada yang sudah berniat ingin memakai cadar (eh, ga penting ya hehe). Oke, tema kajian sore itu tentang cinta. Lumayan menarik perhatian para remaja yang ingin mengetahui makna cinta itu yang sesuai dengan ajaran Islam. Di tulisan yang sebelumnya aku pernah bercerita tentang kajian yang memiliki tema hampir sama dengan hari ini.
Cinta, apa dibenak kalian ketika mendengar kata ini? Memikirkan seseorang yang kalian sukai dengan tersenyum? Apa itu salah? Lalu jika iya, siapa yang sebenarnya harus dicintai? Cinta dalam ajaran islam memang sesuatu yang fitrah jika dilakukan sesuai dengan peraturan yang ada. Ada Hadist Rosulullah SAW yang memiliki arti “cinta dunia dan takut mati’ arti dari cinta dunia disini bukan berarti kita tidak diperbolehkan untuk mencintai dunia, tapi kita tidak diperbolehkan untuk terlalu mencintai dunia.
Nah, untuk para muslimah yang belum menikah pasti tentunya pernah mengalami yang namanya jatuh cinta. Maka saat itu juga kita mengalami ujian. Karena dalam kenyataannya kita cenderung tidak bisa menahan dengan tidak chattingan, telfonan atau apapun itu yang menimbulkan banyak maksiat. Dalam hal ini, sudah kutulis di tulisanku sebelumnya,. Coba dibaca dulu.
Kita kembali ke cinta dunia. Dalam hal ini, cinta pada dunia termasuk cinta harta. Untuk mencegah kita dari cinta harta yang berlebihan, telah diterangkan dalam surat al-Imron ayat 92 yang artinya “bahwa sebaik-baik infaq adalah harta yang kita cintai” maka dengan begitu dia mencintai hartanya karena Allah.
Orang yang terlalu mencintai dunia adalah orang yang melakukan kesalahan hanya gara-gara duniawi. Sedangkan, siapa orang yang mencintai Allah? Orang yang mencintai dunia sesuai dengan yang dicintai Allah. Jadi, cinta disini mengajarkan ke kita untuk tidak mencintai siapapun atau apapun dengan berlebihan. Iya, tentu saja mudah untuk diucapkan dan sulit dilakukan. Hanya saja, ada yang namanya proses. Maka berproseslah, seberapa besar atau kecil perubahan yang lebih baik yang kau lakukan memiliki nilai yang lebih dari pada tidak sama sekali. Selamat berproses.^^

Minggu, 13 Januari 2019

Tentang rasa dan asa untuk cinta


Sore menjelang maghrib itu di ruang rapat pusat dakwah muhammadiyah disulap jadi tempat kajian. Dengan pemateri yang bisa dibilang disukai anak muda banget. Tema mahabbatullah menjadi pembahasan hangat sore itu. Pertanyaan-pertanyaan pembuka yang dilontarkan ustadz jadi penggerak hati kita yang mendengarkan, yang ternyata sangat jauh dariNya. Bagaimana memilih, menempatkan, dan mengelola cinta yang memang fitrah?
Proses menuju cinta pastinya diawali dengan adanya jatuh cinta. Ustadz bertanya pada kita tentang indikasi seseorang dinyatakan jatuh cinta, salah satu dari kami ada yang menjawab “seseorang sedang jatuh cinta itu, mereka candu. Mereka candu pada apapun yang berkaitan dengan seseorang yang disukainya.” Ustadz tersenyum dan menjawab setuju dengan jawaban itu. Salah satu kalimat yang kutangkap dari penjelasan ustadz tentang hal tersebut adalah cinta yang benar itu tidak menyakitkan, rindunya pun akan sangat lembut. Berbanding terbalik ketika cita itu tidak benar, rindunya sangat menyakitkan. Bahkan, jika rindu itu menyebabkan sakit didada dan menjalar ke tangan, maka sudah pasti itu adalah gangguan jin. Bisa dibayangkan, semengerikan itu jika kita salah menempatkan cinta kita.
Pastilah semua orang berkata cinta itu fitrah, lalu bagaimana  bisa kita menghindar ataupun untuk tidak jatuh cinta. Di sini, ustadz menjelaskan sebenarnya seorang laki-laki itu memiliki kelemahan dimata dan dimulut. Oleh karena itu, seorang laki-laki jangan pernah memberikan kenyamanan jika dalam hatipun belum siap untuk melangkah ke jenjang lebih serius. Begitu pula perempuan, ia memiliki kelemahan di pendengarannya. Bisa dibayangkan gombalan yang hanya guyonan pun akan terbawa perasaan bisa jadi, kadang pertolongan yang dilakukan lawan jenispun bisa disalah artikan. Seperti itu, jika kita sedikit saja goyah maka cinta itu akan muncul tanpa menyangkutpautkan Allah dalam prosesnya dan itu termasuk zina hati yang menjadikan pengharapan berlebih.
Dalam suatu hadist riwayat muslim, Rasulullah bersabda takutlah pada dunia dan pada  wanita. Sebagai perempuan yang ingin sekali jatuh cinta dengan tepat, aku diam merenung. Ternyata aku selama ini  telah jauh dan kurang paham mengenai penempatan cinta yang seharusnya. Kita pasti bertanya-tanya bagaimana cara mengontrol hati kita jika sudah terlanjur jatuh cinta dengan cara yang salah? Intropeksi diri, ada yang salah dari cara bergaul kita dengan lawan jenis. Kita chattingan dengan tesenyum lalu membayangkannya saja sudah termasuk zina. Jadi betapa tertamparnya hati ini ketika medengar itu.
Nabi SAW bersabda, takutlah kalian pada penyakit “kasmaran” dan nabi menawarkan solusi untuk kita ketika “kasmaran” telah menjangkit hati kita, yang pertama adalah tidak mengembangkan perasaan, dengan contoh jika kita jatuh cinta pada seseorang yang seorganisasi atau sekomunitas dengannya bisa jadi kita harus keluar dari organisasi atau komunitas itu kalau hati kita tidak terkontrol dan dengan melakukan hal tersebutpun kita sudah dikatakan hijrah, jadi hijrah tidak hanya tentang pakaian tapi hati kita juga harus hijrah. Yang kedua bersabar, dengan tidak mengungkapkan perasaan sampai diri kita  berani untuk mengambil langkah selanjutnya. Yang ketiga dengan mempersibuk diri kita dengan ketaatan kepadaNya, menyerahkan semuanya kepada sang pencipta.
Sempat berfikir bagaimana dengan menyebutkan namanya dalam doa sepertiga malam. Hal itu beda tipis dengan zina hati jika kita tidak memiliki tauhid yang kuat.  Iya, semuanya seakan terjawab di sore itu. Gerimis yang tiba-tiba membasahi semakin membuat kami larut dalam kisah cinta yang seharusnya kita peruntukkan pada zat pemilik hati.
Dengan penjelasan yang begitu singkat itu, sebenarnya aku kurang puas. Karena ini perkara cinta, yang datang tiba-tiba tanpa kita mau. Iya, itu artinya ada yang salah dengan hati kita. Kukira kali ini  prasangkaku benar, kita sebagai manusia selalu berharap lebih pada selainNya. Padahal kita selalu berharap surgaNya. Dan tentu saja surga itu tidak mudah dan tidak murah. Jadi sudah sejauh mana usaha kita untuk mendapatkannya? Sudah layakkah kita mendapatkannya? Ketika ditulisanku kemarin mari membenahi mimpi, sekarang mari kita juga membenahi  ukhrowi. Sungguh tulisan ini tamparan bagi diri.
Mari jatuh cintakan cinta kita ke pemilik cinta yang sebenarnya, semoga bermanfaat.^^

Sabtu, 12 Januari 2019

Tentang rasa dan asa untuk cita cita

Prinsip hidup tentang hidup harus bermanfaat bagi orang lain, harus terus berbuat baik, dan tentunya hidup itu adalah amanah, prinsip itu akan selalu melekat sampai kapanpun. Kali ini, aku akan bicara tentang berbagi bukan hanya tentang uang. Bagi sebagian orang berbagi adalah seberapa banyak kita menyisihkan uang untuk orang lain. Di kamus hidupku berbagi adalah membagikan semua yang bisa kita bagikan saat itu juga. Karena yang kumiliki saat ini hanya berupa sebiji ilmu dan rasa empati untuk menolong, maka itu yang akan jadi prioritas untuk berbagi.
Menjadi volunteer adalah pilihan, impian, atau bisa disebut salah satu cita-citaku. Di dunia perkuliahan dengan jurusan yang tidak banyak menyita waktuku, akhirnya aku memilih mejadi kakak-kakak volunteer pengajar bimbingan belajar.  Ada beberapa komunitas yang ku ikuti untuk mewujudkan secuil impian yang bisa dianggap sepele iitu. Dari mengajar anak-anak di pedesaan tanpa sinyal, panti asuhan, anak autis, mengajar anak-anak yang jadi target kristenisasi, sampai anak-anak milenial dengan gadget yang terus ditangan. Pengalaman yang banyak sekali itu membuatku semakin bergairah untuk terus jadi volunteer yang ketika aku datang mereka teriak memanggil namaku dan berebut salaman serta memelukku.
Impianku dari dulu adalah menjadi volunteer di Maluku. Entah kenapa aku bisa memilih tempat itu. Hanya saja, aku ingin bisa mewujudkannya. Sejak saat itu, aku rajin ikut oprec volunteer di bidang pendidikan untuk ditempatkan di pulau-pulau yang belum terjamah teknologi. Walaupun belum ada kesempatan kesana, dan mungkin jatah gagalku masih belum habis. Menjadi volunteer yang dirindukan merupakan prestasi bagi diriku. Menurutku, ketika kita mengajar dan anak-anak nyaman adalah sesuatu yang membanggakan. Karna sulit sekali mengambil hati anak-anak di waktu yang singkat. Dengan aku yang tidak bisa marah dan selalu tersenyum di depan mereka adalah suau kebanggan sendiri juga.
Selama  hampir 4 tahun berada di kota hujan Malang, aku begitu bersyukur dipertemukan dengan orang-orang hebat di sekelilingku. Tidak hanya temen-temen sejurusan  dan sekelas, tapi mereka yang seorganisasi denganku, mereka yang satu kepanitiaan denganku diwaktu yang singkat, mereka yang menemani perjalanan  petualanganku di Alam. Mereka begitu peduli, mereka yang selalu mengingatkan, itulah salah satu motivasi terbesarku untuk selalu berbagi dimanapun dan kapanpun selagi aku mampu. Dalam hal ini, aku tak ingin menyia-nyiakan masa kuliahku yang sebatas duduk di ruang kelas lalu pulang ke kosan.
Banyak sekali pertanyaan yang melintas tentang kesibukan yang sebenarnya lebih tepat hanya ke mengurangi waktu bersantaiku. Dengan melihat orang tua banting tulang dan aku di isini hanya tergeletak di atas kasur, bukankah itu memalukan sekali, yang seharusnya prinsip mahasiswa adalah sebagai agen perubahan. Tapi  bukan berarti hal ini jadi sarana membanggakan diri bahwa diri kita sudah termasuk salah satu agen perubahan.
Tak pernah ada niat membanggakan diri, tulisan yang sederhanan ini mungkin akan selalu jadi pengingat diri dan semua yang membaca tulisan ini. Semoganya, kita termasuk orang-orang  yang senantiasa berbaik hati dan selalu dilindungi. Karna mati tak pernah pamit dalam diri, jadi terus berbuat baik dan selalu mengingat kebaikan orang lain harus ditanamkan dalam diri.

Jumat, 19 Oktober 2018

Perempuan bepergian sendirian, aman?


Malam itu, ada chatt masuk “fi, besok dateng ke wisudaku kan?” seketika itu juga, aku ingat ada janji untuk menghadiri wisuda di Lamongan. Posisiku saat itu ada tugas negara yang mengharuskanku tidak tidur sampai jam 2 pagi dan harus bangun subuh  tepat waktu. Pagi itu, masih berada di kota perantauan dengan fikiran ingin ke Lamongan motoran sendirian dan pegang prinsip harus balik hari itu juga karena ada tugas negara lain yang berdatangan.
Keputusan yang kuambil akhirnya ku berusaha mengajak orang yang bisa mau menerima rencana yang agak gila ini. Dan endingnya, aku motoran sendirian ke Lamongan, bermodalkan maps karena aku sangat tidak hafal jalan walaupun sudah berulang-ulang. Sebelumnya, izinku ke anak kontrakan berangkat dengan teman.
Jam sepuluhku memulai perjalanan dengan penuh kemacetan di Malang. Dengan niat ingin pulang ke Malang hari itu juga maka kecepatanku diambang batas normal biasanya, tanpa nyasar tapi ada sedikit tragedi hp jatuh di rel kereta membuatku positif thinking untuk bisa balik hari itu juga. Jam setengah satu, aku sampai di STIKES Muhammadiyah Lamongan.
Seakan surprise, ku chatt dia kalau aku sudah berada di kampusnya. Bingung, terharu sampai aku lupa kalo  bawa hadiah untuknya. Hadiah yang kuberharap dia bisa  menjadi teman dunia akhirat. Di Lamongan seakan jadi tempat persinggahanku sholat dzhuhur dan ashar. Jam empat, kumemutuskan pamit. Memeriksa maps dan bensin (spidometer rusak) yang menurutku cukup untuk menuju pom bensin selanjutnya.
Dugaanku salah. Di tengah jalan yang kanan kirinya hutan jati tiba-tiba motor yang kukendarai berhenti. Bisa dibayangkan wajahku seperti apa, kaget, syok, takut. Dengan tangan yang sangat dingin kulihat bensin dan ternyata habis tak bersisa. Akhirnya, ku lihat jam yang menunjukkan setengah lima. Bisa dibayangkan lagi, betapa takutnya aku. Ku berjalan pelan dan baru dua langkahh, ada pengendara motor berhenti dan bertanya:
 “kenapa mbak?”
“bensinnya habis mas”
“naik aja mbak, tak dorong dari belakang”
“loh, gapapa mas?”
“iya mbak”
Reflekku langsung naik motor dan didorong melewati hutan yang ternyata sangat panjang dan lebat sampai ada penjual bensin dipinggir jalan. Waktu itu langsung kuisi full karena tak ingin mengulang kejadian yang sama. Drama belum selesai disitu, diperempatan jalan besar tiba-tiba  motor yang kukendarai mati. Bisa dibayangkan lagi betapa paniknya wajahku. Alhamdulillahnya, bisa langsung nyala.
Perjalanan sendirian itu berujung pada view gunung penanggungan yang ternyata aku semakin mendekatinya. Mengikuti maps dan tak pernah hafal jalan sampai  ada panah yang menunjukkanku ternyata lewat cangar.  Fix, kulihat jam ternyata sudah jam lima sore. Semua surat yang pernah kuhafal kumurojaah semua selama perjalanan.
Gelap dan sepi, Suasana itu membuatku jengkel. Tak ada pemandangan yang tidak indah disana, semuanya membuatku tak henti memujiNya. Waktu menunjukkan maghrib dan aku masih dijalanan cangar. Sampai ku tiba diperkampungan yang pernah kulewati pas pulang dari gunung penanggungan 2 tahun lalu. Ku berbelok kearah gapura kampung iu yang ternyata berujung sawah dan banyak segerombolan laki-laki. Bisa dibayangkan lagi betapa takutnya aku waktu itu. Tanpa fikir panjang kuberbalik arah dan akhirnya menemukan jalan yang tadinya tak kulihat.
Lantunan doa tak henti kuucapkan. Sampai kutiba di kota Batu yang taak hentinya kubersyukur. Sampai komisariat tercinta jam setengah tujuh. Dengan wajah bahagia karena sampai dengan selamat kuberitahu mereka kalau aku hari ini ke Lamongan sendirian motoran. Dibilang gila, ga jelas, sok nekat apapun itu kuterima. Intinya aku bahagia
Perempuan bepergian sendirian, bagiku tak ada yang salah. Hanya saja, ada resiko yang memang harus diterima. Akan tetapi, lebih baiknya memang jangan sampai sendirian. Iya, itu menurutku setelah mengalami hal-hal yang  beresiko seperti itu. Pelajaran yang dapat kuambil dari perjalananku kali ini adalah terus berbuat baik pada siapapun. Kita tak pernah tau kapan balasan perbuatan baik kita itu akan terbalas. Lewat hal-hal kecil yang tak pernah kita sadari seperti ketika aku kehabisan bensin ditengah hutan itu. Semoga kita termasuk orang yang berbuat baik, dari baik saja menjadi lebih baik dan dari lebih baik selalu istiqomah menjadi baik.  aamiin

Merdeka yang harus dimerdekakan

Indonesiaku Merdeka Kekayaan alamnya tak diragukan Gunung dan lautan tak pernah luput dari pandangan Bahasa dan budaya tak terhitung d...